Matahari pagi di atas Demura tidak sepenuhnya menghalau kabut dingin yang memeluk dinding batu. Di lapangan yang berbatasan langsung dengan istal kuda dan barak prajurit, bau tanah basah, besi, dan jerami terbakar menguar pekat. Tiga anak panah masih menancap di satu papan sasaran yang sama. Sebuah monumen bisu dari ketegangan yang baru saja mereda.Solvatar memutar tubuh jangkungnya, menghadap Runala yang berdiri beberapa langkah di dekat pilar teras. Gaun sewarna langit malam tampak kontras dengan kulit pucatnya, dan rambut merah kecokelatannya sedikit bergerak ditiup angin. Solvatar melangkah mendekat, bayangan tubuhnya yang tinggi dan tegap menutupi sosok Runala sepenuhnya.“Pastikan kau aman. Jaga diri,” kata Solvatar dengan nada perintah yang tidak bisa dibantah. Jemarinya terulur, hendak membelai rahang Runala, tetapi dia menariknya kembali. “Jangan berkeliaran. Mengerti, Rabbit?”Satu alis Runala terangkat, menatap tangan Solvatar yang batal menyentuhnya. Ada sesuatu yang hamp
آخر تحديث : 2026-05-27 اقرأ المزيد