Runala tidak ingin terlelap.Suhu di dalam ruangan itu turun drastis menjelang fajar, membuat uap napas keluar tipis dari sela bibir Runala yang pucat. Kini, yang tersisa hanyalah keheningan pekat yang sesekali dipecah oleh derit ranjang setiap kali tubuh Solvatar bergerak sedikit dalam tidurnya.Dua belas jam telah berlalu, Runala masih berada di posisi yang sama. Punggungnya kaku, matanya terasa panas dan kering karena menolak sedetik pun untuk terpejam.Dengan gerakan lelah, Runala mencelupkan selembar kain ke dalam baskom air hangat yang kini sudah mendingin. Dia memerasnya pelan, lalu menyeka kening Solvatar yang berkeringat dingin meski suhu ruangan membeku. Setiap kali jemarinya yang gemetar menyentuh kulit sang Alpha, Runala membisikkan satu kalimat yang sama, sebuah mantra yang dirapalkan sepanjang malam agar jiwanya tidak hanyut dalam keputusasaan.“Aku di sini,” bisiknya parau. Suaranya hampir hilang tertelan kesunyian. “Kembalilah. Solvatar, aku di sini. Kembalilah.”Derit
Last Updated : 2026-05-30 Read more