Purnama itu seolah-olah membeku di atas padang bunga. Perak dan pucat, menggantung seperti janji yang tidak ditepati. Di bawahnya, dua sosok saling memandang dalam keheningan yang menyesakkan. Satu bergetar karena rahasia, yang lain diam karena ketidaktahuan.“Aku tidak bisa, Solvatar,” bisik Runala. Suara gadis itu gemetar oleh rahasia yang selama ini tersimpan rapat. “Aku ... aku tidak bisa berubah menjadi serigala.”Solvatar mematung. Sepasang netra emasnya, yang sebermula berpendar penuh gairah untuk berlari bersama di bawah purnama, kini meredup. Dia melangkah maju, memangkas jarak dan berlutut dengan satu lutut menempel pada tanah di samping Runala. “Apa kau bilang?” Suara Solvatar rendah, menggetarkan tanah yang mereka pijak.Mata Runala mulai berkaca-kaca. Teringat bagaimana hinaan yang dia terima di masa kecil. “Tidak ada serigala di dalam diriku. Aku—”Tanpa dinyana, tangan Solvatar menyelinap ke balik kain rok Runala. Tanpa ragu, dia mencengkeram paha luar gadis itu. Tepat
آخر تحديث : 2026-05-14 اقرأ المزيد