Bunyi ketukan antara alu dan lumpang kayu menjadi satu-satunya melodi yang memecah kesunyian kamar tamu istana. Di atas meja, tangan Runala bergerak dengan ritme yang teratur. Jemarinya yang ramping dengan cekatan memisahkan beberapa jenis kelopak bunga, menumbuk akar, daun, rempah hingga mengeluarkan saripati berwarna cokelat bening.Akan tetapi, malam ini konsentrasi Runala tidak sepenuhnya utuh. Setiap kali alu menghantam dasar lumpang, isi kepala gadis itu justru berputar mundur, memutar ulang kejadian di ruang makan beberapa jam yang lalu.Kehadiran Lunielle masih membekas begitu nyata di indra Runala. Gadis itu sama sekali bukan orang sembarangan yang bisa diabaikan begitu saja. Kala pintu ruang makan terbuka, Lunielle tidak sekadar masuk; dia membawa aura kemegahan istana. Rambut pirangnya yang berkilau bagai benang emas di bawah pendar lilin, sepasang netra biru jernih sewarna langit musim panas, serta gaun sutra biru yang melekat indah di tubuhnya. Semuanya memancarkan keang
Read more