Matahari siang bersinar terik, memanggang atap-atap genteng emas ibu kota kekaisaran. Di depan gerbang ganda Paviliun Kaca Kusam, Chu Renshu berdiri tegap bagaikan patung batu penjaga kuil. Zirah kulitnya memantulkan cahaya, sementara wajah kerasnya tak menunjukkan emosi apa pun.Namun, di balik topeng sedingin es itu, sepasang mata elang Renshu sedikit menyipit saat melihat rombongan kecil mendekat dari ujung lorong.Dayang senior paviliun, Dayang Chun, berjalan dengan langkah angkuh. Tepat di belakangnya, mengekor sesosok gadis remaja berbalut pakaian pelayan katun cokelat kusam yang kedodoran. Gadis itu berjalan menunduk dalam-dalam, bahunya bergetar hebat, dan tangannya meremas ujung bajunya sendiri dengan gelagat ketakutan yang luar biasa meyakinkan.Itu adalah Chu Xiaoxiao, adik bungsunya.Saat melewati gerbang, Xiaoxiao sengaja melirik sekilas ke arah Renshu dari balik poni rambutnya yang berantakan. Gadis remaja itu mengedipkan sebelah matanya dengan sangat cepat dan jahil
Baca selengkapnya