/ Zaman Kuno / Sentuh Aku, Renshu! / 24. Menagih Janji Malam

공유

24. Menagih Janji Malam

작가: Donat Mblondo
last update 게시일: 2026-05-28 16:20:06

Chu Renshu mematung. Angin malam berembus menyapu dedaunan bambu, menciptakan paduan suara gemerisik yang mengiris keheningan, namun sang prajurit sama sekali tak bergeming. Di bawah cahaya bulan purnama yang pucat, waktu seolah membeku di taman terlarang tersebut.

​Selama beberapa detik yang terasa seperti keabadian, Renshu hanya diam, menatap ujung bilah pedang kayu yang menempel dingin tepat di atas urat nadi lehernya. Dada bidangnya yang terbalut kemeja hitam basah oleh keringat naik turun
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Sentuh Aku, Renshu!   24. Menagih Janji Malam

    Chu Renshu mematung. Angin malam berembus menyapu dedaunan bambu, menciptakan paduan suara gemerisik yang mengiris keheningan, namun sang prajurit sama sekali tak bergeming. Di bawah cahaya bulan purnama yang pucat, waktu seolah membeku di taman terlarang tersebut.​Selama beberapa detik yang terasa seperti keabadian, Renshu hanya diam, menatap ujung bilah pedang kayu yang menempel dingin tepat di atas urat nadi lehernya. Dada bidangnya yang terbalut kemeja hitam basah oleh keringat naik turun dengan ritme yang mulai melambat. Ia kemudian perlahan mendongak, mempertemukan sepasang mata elangnya dengan tatapan Liying.​Gadis itu berdiri menjulang di hadapannya. Napas Liying masih memburu liar, mengembuskan uap tipis di udara malam yang dingin. Wajahnya bersimbah peluh. Namun, di balik kelelahan fisik yang nyaris meremukkan tulang-tulangnya itu, Liying memancarkan aura kebanggaan dan kelicikan yang luar biasa memukau. Tunas mawar yang selama ini layu dan rapuh di dalam istana, malam ini

  • Sentuh Aku, Renshu!   23. Kelicikan Sang Rubah

    Melihat perubahan kuda-kuda Liying yang mendadak terbuka, alis tebal Renshu sedikit bertaut. Di matanya, sang Putri tampak seperti sudah mencapai batas kelelahan fisik. Napas gadis itu tersengal berat, dan cengkeramannya pada pedang terlihat mengendur.​Bagi seorang prajurit, menunjukkan kelemahan di hadapan musuh adalah undangan menuju kematian.​"Kau menyerah?" ejek Renshu pelan. Ia memutuskan untuk mengakhiri siksaan malam ini. Dengan gerakan santai yang mematikan, Renshu melangkah maju dan mengayunkan pedang kayunya lurus ke arah lengan Liying, bermaksud melucuti senjata gadis itu.​Serangan itu tidak cepat, namun sangat bertenaga.​Alih-alih menghindar atau menangkis dengan kuda-kuda kokoh seperti sebelumnya, Liying justru melakukan kesalahan fatal. Gadis itu menahan ayunan Renshu dengan postur yang sangat buruk.​BTAK!​Akibatnya sudah bisa ditebak. Begitu dua bilah kayu itu berbenturan, pedang Liying langsung terpelanting jauh dari genggamannya, terlempar ke udara, dan jatuh ke

  • Sentuh Aku, Renshu!   22. Tembok Baja Sang Instruktur

    Malam ujian itu akhirnya tiba. Udara di taman bambu terasa jauh lebih pekat dari biasanya, seolah ikut menahan napas menyaksikan pertarungan yang akan menentukan nasib sang Putri.​Yan Liying berdiri dengan napas tertahan. Ia mengenakan setelan katun gelapnya, menggeser kaki kanannya ke belakang untuk membentuk kuda-kuda serang yang telah ia latih bermalam-malam hingga lututnya memar. Kedua tangannya mencengkeram gagang pedang kayu erat-erat. Di punggung tangan kanannya, bekas gigitan Renshu masih menyisakan rona kemerahan yang samar, sebuah cap kepemilikan yang kini justru memacu adrenalinnya.​Di seberangnya, Chu Renshu berdiri menjulang membelakangi cahaya bulan.​Sangat kontras dengan ketegangan Liying, sang prajurit justru tampak luar biasa santai. Ia tidak memasang kuda-kuda. Pria raksasa itu hanya berdiri tegap dengan kedua kaki terbuka selebar bahu. Tangan kirinya dibiarkan terlipat santai di belakang punggung, sementara tangan kanannya menggenggam pedang kayu yang ujung bilah

  • Sentuh Aku, Renshu!   21. Pembersihan Mutlak

    Puas meninggalkan tanda kepemilikan di punggung tangan Liying, Renshu tidak berhenti sampai di sana. Sisa-sisa amarah dan cemburu buta yang mendidih di pembuluhnya masih menuntut pelampiasan yang jauh lebih mutlak.​Pria itu melepaskan tangan Liying yang memerah, lalu dengan kecepatan kilat, kedua tangan besarnya yang kasar berpindah menangkup rahang serta tengkuk sang Putri.​Tanpa memberi Liying kesempatan untuk mengambil napas sedetik pun, Renshu menundukkan kepalanya dan menabrakkan bibirnya ke bibir gadis itu.​Itu sama sekali bukan ciuman yang lembut.​Ciuman itu brutal, beringas, dan luar biasa menuntut. Renshu melumat bibir Liying dengan kehausan seorang predator yang kelaparan, memaksa bibir mungil itu terbuka untuk menerima invasi mutlak darinya. Rasa perih dari gigitan di tangannya seketika terlupakan, tenggelam oleh panasnya lidah Renshu yang menyapu, membelit, dan mendominasi setiap inci ruang di dalam mulut Liying.​"Mmph...!" Liying terkesiap tertahan. Tangan kirinya re

  • Sentuh Aku, Renshu!   20. Hukuman Tangan yang Kotor

    ​Punggung Liying bergesekan kasar dengan ruas batang pohon bambu raksasa di belakangnya. Tidak ada jalan keluar. Di sisi kanan dan kirinya, kedua lengan kekar Renshu telah tertanam kuat di batang pohon, mengurungnya dalam sangkar otot dan hawa panas yang luar biasa pekat.​Napas sang prajurit memburu, menabrak wajah Liying dengan aroma keringat maskulin yang bercampur amarah mentah. Di bawah keremangan cahaya bulan, sepasang mata elang Renshu tak lagi menyembunyikan kegelapan di dalamnya. Tatapan itu benar-benar menelanjangi Liying, menembus pertahanan sang Putri hingga ke dasar jiwanya.​"Kau benar," geram Renshu. Suaranya terdengar sangat rendah dan bergetar, menyerupai geraman serigala yang wilayahnya baru saja diinjak. "Aku cemburu buta."​Liying menahan napas. Pengakuan langsung yang tak terduga itu membuat jantungnya berdegup gila.​Renshu mencondongkan wajahnya lebih dekat, hingga ujung hidungnya nyaris menyentuh hidung Liying. "Siang tadi, saat aku melihat babi brengsek itu be

  • Sentuh Aku, Renshu!   19. Amarah Tak Bersuara di Taman Bambu

    Angin malam berembus kencang, menampar dedaunan bambu hingga menciptakan suara gemerisik yang terdengar seperti bisikan menakutkan. Di tengah taman yang remang, udara terasa begitu pekat dan mencekik, seolah ada tangan tak kasatmata yang mencengkeram leher siapa pun yang berani melangkah masuk.​Liying tiba di tempat latihan dengan setelan katun gelapnya. Belum sempat ia menstabilkan napasnya, sebuah pedang kayu melesat dari kegelapan, mengarah tepat ke wajahnya.​Dengan refleks yang baru terbangun selama beberapa hari terakhir, Liying menangkap pedang itu, meski telapak tangannya berdenyut nyeri akibat benturan yang keras.​Di depannya, Renshu melangkah keluar dari balik bayangan. Pria itu tidak mengenakan zirah, hanya kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku. Namun, tidak ada sapaan 'Tuan Putri'. Tidak ada tatapan penuh damba atau kelembutan seperti malam-malam sebelumnya. Mata elang sang prajurit benar-benar gelap, kosong, dan memancarkan hawa membunuh murni yang membuat da

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status