FAZER LOGINBersiaplah, Xiaoxiao akan masuk menjadi partner.
Sinar mentari pagi menerobos masuk melalui celah ukiran jendela Paviliun Kaca Kusam, jatuh menyinari wajah Yan Liying.Sang Putri perlahan membuka matanya. Seketika, rasa pegal dan nyeri menghantam sekujur otot lengannya. Liying bangun dengan tubuh yang terasa luar biasa kaku akibat latihan fisik yang keras, sekaligus pergumulan panasnya dengan Renshu semalam. Di balik kerah sutra tidurnya, ia masih bisa merasakan sisa-sisa hawa panas dari bibir sang prajurit, meninggalkan sensasi berdebar yang kini terasa seperti candu. Namun, di balik rasa pegal yang mendera tubuhnya, pikiran Liying justru terasa luar biasa jernih. Kepanikan dan keputusasaan yang menggerogotinya kemarin telah hangus terbakar. Ia menatap pantulan dirinya di cermin perunggu. Hari ini, ia bukan lagi domba yang menunggu disembelih. Ia mulai menjalankan rencana persiapan perang politiknya. Suara langkah kaki yang tergesa-gesa memecah lamunannya. Pintu kamarnya digeser dengan kasar.Selir Lan melangkah masuk denga
Mendengar tuntutan berani yang meluncur dari bibir merah Liying, sisa-sisa kewarasan Chu Renshu hancur lebur berkeping-keping.Permintaan itu ibarat melepaskan gembok baja terakhir dari kandang seekor binatang buas yang telah lama menahan rasa lapar. Rantai status, hukum istana, hingga batas kesopanan yang selama ini mati-matian ia pertahankan, seketika menguap tertiup angin malam.Dengan satu gerakan kilat yang membuat Liying tersentak kaget, Renshu berdiri. Kedua tangan besarnya menyambar pinggang dan paha sang Putri, mengangkat tubuh mungil Liying ke udara dengan sangat mudah, seolah gadis itu tidak lebih berat dari segulung sutra."Ah!"Liying terpekik pelan. Secara instingtif, kedua kaki Liying melingkar erat di pinggang kokoh sang prajurit, sementara lengannya berpegangan kuat pada bahu lebar Renshu.Tanpa mengatakan sepatah kata pun, Renshu melangkah lebar menembus keremangan taman bambu. Mata elangnya yang kini sepenuhnya dikuasai oleh kabut gairah dan kepemilikan mutlak t
Chu Renshu mematung. Angin malam berembus menyapu dedaunan bambu, menciptakan paduan suara gemerisik yang mengiris keheningan, namun sang prajurit sama sekali tak bergeming. Di bawah cahaya bulan purnama yang pucat, waktu seolah membeku di taman terlarang tersebut.Selama beberapa detik yang terasa seperti keabadian, Renshu hanya diam, menatap ujung bilah pedang kayu yang menempel dingin tepat di atas urat nadi lehernya. Dada bidangnya yang terbalut kemeja hitam basah oleh keringat naik turun dengan ritme yang mulai melambat. Ia kemudian perlahan mendongak, mempertemukan sepasang mata elangnya dengan tatapan Liying.Gadis itu berdiri menjulang di hadapannya. Napas Liying masih memburu liar, mengembuskan uap tipis di udara malam yang dingin. Wajahnya bersimbah peluh. Namun, di balik kelelahan fisik yang nyaris meremukkan tulang-tulangnya itu, Liying memancarkan aura kebanggaan dan kelicikan yang luar biasa memukau. Tunas mawar yang selama ini layu dan rapuh di dalam istana, malam ini
Melihat perubahan kuda-kuda Liying yang mendadak terbuka, alis tebal Renshu sedikit bertaut. Di matanya, sang Putri tampak seperti sudah mencapai batas kelelahan fisik. Napas gadis itu tersengal berat, dan cengkeramannya pada pedang terlihat mengendur.Bagi seorang prajurit, menunjukkan kelemahan di hadapan musuh adalah undangan menuju kematian."Kau menyerah?" ejek Renshu pelan. Ia memutuskan untuk mengakhiri siksaan malam ini. Dengan gerakan santai yang mematikan, Renshu melangkah maju dan mengayunkan pedang kayunya lurus ke arah lengan Liying, bermaksud melucuti senjata gadis itu.Serangan itu tidak cepat, namun sangat bertenaga.Alih-alih menghindar atau menangkis dengan kuda-kuda kokoh seperti sebelumnya, Liying justru melakukan kesalahan fatal. Gadis itu menahan ayunan Renshu dengan postur yang sangat buruk.BTAK!Akibatnya sudah bisa ditebak. Begitu dua bilah kayu itu berbenturan, pedang Liying langsung terpelanting jauh dari genggamannya, terlempar ke udara, dan jatuh ke
Malam ujian itu akhirnya tiba. Udara di taman bambu terasa jauh lebih pekat dari biasanya, seolah ikut menahan napas menyaksikan pertarungan yang akan menentukan nasib sang Putri.Yan Liying berdiri dengan napas tertahan. Ia mengenakan setelan katun gelapnya, menggeser kaki kanannya ke belakang untuk membentuk kuda-kuda serang yang telah ia latih bermalam-malam hingga lututnya memar. Kedua tangannya mencengkeram gagang pedang kayu erat-erat. Di punggung tangan kanannya, bekas gigitan Renshu masih menyisakan rona kemerahan yang samar, sebuah cap kepemilikan yang kini justru memacu adrenalinnya.Di seberangnya, Chu Renshu berdiri menjulang membelakangi cahaya bulan.Sangat kontras dengan ketegangan Liying, sang prajurit justru tampak luar biasa santai. Ia tidak memasang kuda-kuda. Pria raksasa itu hanya berdiri tegap dengan kedua kaki terbuka selebar bahu. Tangan kirinya dibiarkan terlipat santai di belakang punggung, sementara tangan kanannya menggenggam pedang kayu yang ujung bilah
Puas meninggalkan tanda kepemilikan di punggung tangan Liying, Renshu tidak berhenti sampai di sana. Sisa-sisa amarah dan cemburu buta yang mendidih di pembuluhnya masih menuntut pelampiasan yang jauh lebih mutlak.Pria itu melepaskan tangan Liying yang memerah, lalu dengan kecepatan kilat, kedua tangan besarnya yang kasar berpindah menangkup rahang serta tengkuk sang Putri.Tanpa memberi Liying kesempatan untuk mengambil napas sedetik pun, Renshu menundukkan kepalanya dan menabrakkan bibirnya ke bibir gadis itu.Itu sama sekali bukan ciuman yang lembut.Ciuman itu brutal, beringas, dan luar biasa menuntut. Renshu melumat bibir Liying dengan kehausan seorang predator yang kelaparan, memaksa bibir mungil itu terbuka untuk menerima invasi mutlak darinya. Rasa perih dari gigitan di tangannya seketika terlupakan, tenggelam oleh panasnya lidah Renshu yang menyapu, membelit, dan mendominasi setiap inci ruang di dalam mulut Liying."Mmph...!" Liying terkesiap tertahan. Tangan kirinya re