Home / Zaman Kuno / Sentuh Aku, Renshu! / 27. Wajah Polos Sang Penyusup

Share

27. Wajah Polos Sang Penyusup

Author: Donat Mblondo
last update Petsa ng paglalathala: 2026-05-30 23:13:19

Matahari siang bersinar terik, memanggang atap-atap genteng emas ibu kota kekaisaran. Di depan gerbang ganda Paviliun Kaca Kusam, Chu Renshu berdiri tegap bagaikan patung batu penjaga kuil. Zirah kulitnya memantulkan cahaya, sementara wajah kerasnya tak menunjukkan emosi apa pun.

​Namun, di balik topeng sedingin es itu, sepasang mata elang Renshu sedikit menyipit saat melihat rombongan kecil mendekat dari ujung lorong.

​Dayang senior paviliun, Dayang Chun, berjalan dengan langkah angkuh. Tepat
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Sentuh Aku, Renshu!   70. Surat Darah dari Teratai Merah

    Langit di atas Benteng Nanzhou mendung pekat, seolah alam pun tahu bahwa masa tenang yang singkat itu telah berakhir. Angin selatan bertiup membawa debu kering menyapu halaman utama Markas Militer saat suara terompet peringatan berbunyi nyaring dari atas menara pengawas.​Tempo kedamaian mereka melesat hancur dalam sekejap. Pintu gerbang utama dipaksa terbuka untuk memberi jalan bagi sekelompok penunggang kuda yang datang dengan arogansi tinggi. Mereka mengenakan zirah berwarna merah gelap berlambang naga, warna kebesaran Istana Teratai Merah.​Di balkon lantai dua markas, Putri Liying berdiri menatap kedatangan rombongan itu dengan rahang mengeras. Di sisinya, Chu Renshu menatap tajam ke arah bawah, tangannya secara instingtif beristirahat di atas gagang pedang bajanya.​Gubernur Militer Wei dan beberapa perwiranya bergegas turun ke halaman utama untuk menyambut. Sebagai warlord yang bermain dua kaki, Gubernur Wei berusaha mempertahankan senyum diplomatisnya.​"Utusan dari Ibu Kota,

  • Sentuh Aku, Renshu!   69. Racun Industri dan Warisan Sang Jenderal

    Aroma belerang dan herbal pahit yang menyengat menenggelamkan bau anyir darah di paviliun sayap utara. Pagi itu, sinar matahari menembus jendela kertas, menerangi Meilin yang sedang menggerutu pelan. Jari-jari telaten wanita itu mengoleskan pasta tulang berwarna hitam pekat ke bahu kiri Xiaoxiao yang masih memar keunguan."Tahan sedikit," tegur Meilin tajam, menekan perban kain dengan sedikit tenaga. "Sudah kubilang bahu kirimu ini butuh waktu untuk pulih setelah dislokasi paksa. Kau malah keluyuran semalaman memimpin operasi pembersihan!""Aku hanya memakai tangan kananku untuk menjentikkan jarum semalam, Kak Meilin," kekeh Xiaoxiao, adik bungsu Renshu itu, sama sekali tidak terlihat kesakitan meski bahunya dibebat ketat. "Lagipula, para prajurit garda depan Nanzhou yang melakukan tebasannya. Aku hanya berdiri di atas atap dan mengawasi."Pintu kayu bergeser terbuka, menampilkan sosok Liying yang melangkah masuk. Aura sang Putri tak lagi memancarkan keputusasaan seperti di ibu kota;

  • Sentuh Aku, Renshu!   68. Rantai Baja di Leher Penguasa

    ​Bau amis darah segar menguar kental, memenuhi setiap sudut Aula Utama Markas Militer Nanzhou. Mayat tanpa kepala milik Wakil Jenderal Zheng masih terkapar di lantai batu, darahnya menggenang merendam ujung sepatu Gubernur Wei yang kini berlutut gemetar. Seluruh perwira tinggi di ruangan itu menahan napas, tak ada satu pun yang berani mengangkat wajah menatap prajurit pembawa maut di sisi meja, maupun sang Putri Kekaisaran yang berdiri dengan aura dominasi absolut.​Liying menatap Gubernur Wei dengan sorot mata sedingin es abadi. Tidak ada waktu untuk merayakan kemenangan palsu. Liying butuh kendali mutlak, malam ini juga.​"Serahkan stempel militer Nanzhou, Gubernur Wei," titah Liying, suaranya memotong keheningan layaknya pedang baja.​Gubernur Wei tidak memiliki pilihan. Tangan pria paruh baya itu gemetar saat ia merogoh kerah zirahnya, menarik sebuah stempel perunggu berbentuk kepala harimau, lalu menyerahkannya dengan kepala tertunduk. Stempel itu adalah nyawa seluruh pasukan per

  • Sentuh Aku, Renshu!   67. Tunduk pada Sang Putri

    Udara di dalam Aula Utama Markas Militer Nanzhou terasa sangat padat dan mencekik. Mata Gubernur Militer Wei menatap gulungan dokumen di atas meja, lalu perlahan beralih menatap Liying. Urat-urat di pelipis pria paruh baya itu berkedut samar. Di balik wajahnya yang tegang, Gubernur Wei berniat licik membunuh Liying untuk merebut dokumen tersebut. Ia melirik sekilas ke arah wakil jenderal kepercayaannya yang berdiri di sisi kanan singgasana, memberikan isyarat tak kasatmata agar pria itu bersiap memerintahkan pasukan untuk menyergap. ​Namun Liying yang cerdik sudah memprediksinya. Gadis itu tidak melewatkan satu kedipan mata pun dari sang Gubernur. Sebelum wakil jenderal itu sempat mengangkat tangannya untuk memberi aba-aba, suara tawa pelan Liying memecah ketegangan. Tawa yang terdengar sangat dingin dan meremehkan. ​"Kau sedang menimbang apakah lebih menguntungkan membunuhku dan merebut dokumen ini sekarang, bukan?" tebak Liying lugas, membuat Gubernur Wei mematung seketika. "Say

  • Sentuh Aku, Renshu!   66. Gerbang Benteng Nanzhou

    ​Setelah menempuh perjalanan yang menyiksa fisik melewati sisa-sisa badai dan mayat-mayat pembunuh bayaran, kelompok kecil itu akhirnya keluar dari hutan dan tiba di Benteng Nanzhou. Pemandangan di hadapan mereka sama sekali tidak menyerupai keanggunan Istana Yanze. Tembok batu hitam yang kokoh menjulang tinggi menantang langit, dipenuhi bekas sabetan senjata dan noda darah peperangan masa lalu. ​Kota militer ini dipimpin oleh Gubernur Militer Wei, seorang warlord independen yang tidak tunduk penuh pada Bojing. Di tempat ini, hukum kekaisaran hanya sekadar anjuran; kekuatan militer dan emas adalah satu-satunya dewa yang disembah. ​Kuda-kuda mereka melangkah pelan mendekati gerbang utama yang dijaga ketat oleh puluhan prajurit bersenjata tombak berat. Hujan telah reda, menyisakan udara sore yang lembap dan berdebu.​Liying turun dari kudanya. Ia melangkah memimpin kelompok tersebut. Liying datang dengan pakaian compang-camping namun auranya mendominasi. Jubah hitamnya berlumuran lu

  • Sentuh Aku, Renshu!   65. Ciuman Darah dan Tarian Setara

    Bibir mereka masih menyatu dalam pagutan lapar saat sebuah desingan tajam membelah udara hutan yang sunyi.​Insting tempur Chu Renshu yang sangat tajam bereaksi secepat kilat. Pria tegap itu melepaskan pinggang Liying, memutar tubuh gadis itu ke belakang punggungnya, dan menangkap sebuah pisau lempar beracun hanya beberapa inci sebelum logam mematikan itu menembus leher wanitanya.​Suasana panas yang memabukkan seketika menguap, digantikan oleh hawa membunuh murni.​Dari balik bayangan pepohonan pinus dan semak belukar yang rimbun, belasan bayangan berkelebat cepat. Pasukan elit Yanze akhirnya melacak jejak mereka di tengah hutan. Sepuluh orang pembunuh bayaran berpakaian merah gelap, warna khas Istana Teratai Merah milik Bojing, muncul mengepung mereka, pedang dan rantai baja terhunus memantulkan sisa cahaya matahari. ​Renshu menjatuhkan pisau lempar itu ke tanah. Tangan kanannya dengan mulus menarik pedang bajanya dari sarung. Luka robek di punggungnya yang baru saja diperban Liyi

  • Sentuh Aku, Renshu!   40. Darah hitam

    Ancaman nyata terhadap nyawa wanitanya ini memaksa Renshu untuk melanggar aturan istana demi menyelamatkan wanitanya. Menghunuskan pedang ke arah pengawal pribadi Putra Mahkota adalah sebuah makar. Hukumannya adalah eksekusi mati.​Namun, urat-urat di leher dan lengan Renshu yang mengeras membuktika

  • Sentuh Aku, Renshu!   39. Bencana Keluarga Feng

    ​Gema kemarahan Kaisar Jianhong masih tertinggal di udara aula yang dingin. Titah absolut telah dijatuhkan, dan pengawal lapis baja segera bergerak maju tanpa ampun. Sebagai puncak ketegangan dari skandal memalukan tersebut, Yuchen dan Ruolan diseret untuk dihukum. Teriakan histeris Yuchen yang mem

  • Sentuh Aku, Renshu!   38. Panggung Kehancuran

    Hari pernikahan yang dimajukan itu akhirnya tiba. Di dalam Istana Kaca Kusam, Selir Lan sibuk mengitari Liying. Wanita yang sangat gila harta dan takhta itu terus mengagumi gaun pengantin sutra dan menghitung daftar mahar kekaisaran dengan mata berbinar rakus. Selir Lan sama sekali tidak peduli pada

  • Sentuh Aku, Renshu!   34. Rencana yang Sempurna (Di Mata Musuh)

    Matahari mulai meninggi, menandakan waktu kunjungan telah berakhir. Yuchen berdiri dari duduknya, merapikan jubah sutranya dengan gerakan elegan yang telah ia latih ribuan kali.​"Aku harus kembali ke Kementerian, Liying," pamit Yuchen dengan senyum lembut yang tak pernah lepas dari wajahnya. "Ayah

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status