Menjalani hari-hari di pesantren, nyatanya tidak membuat Acun merasa kesepian. Remaja yang memang berjiwa supel itu, dengan mudah berbaur bersama para santri lainnya. Ia selalu mengikuti peraturan, rajin beribadah, dan menyimak setiap pelajaran agama dengan sangat baik.Sementara itu di tempat lain, Karta terus dirundung keputusasaan. Beberapa kali ia nekat kembali mendatangi lokasi di mana gubuk Nyi Damar dulu berada. Namun, gubuk tua itu benar-benar telah hilang tanpa bekas, seolah ditelan bumi. Bahkan, orang yang dulu pernah memberinya informasi tentang sang dukun itu pun tidak pernah lagi menampakkan batang hidungnya.Karta membagi fokusnya pada kelangsungan pendidikan Acun. Masa depan sang putra menjadi satu-satunya penyemangat di kala raga mulai goyah. Ia sadar, usianya tak lagi muda untuk bersaing mencari pekerjaan mapan di kota. Maka, Karta bertahan hidup dengan bekerja serabutan apa saja. Menjadi kuli panggul, kuli
Baca selengkapnya