...Bab 84Aldrich hanya sedikit menjauhkan telinga tanpa melepas tangannya.“Buruan ambil, keburu lenganku pegal, Keeva,” bisik Aldrich dari bawah. Suaranya bergetar di punggung Keeva, memantik sensasi panas yang menjalar ke seluruh tubuh.Keeva kembali berdecak, dan buru-buru mengambil satu gelas dari sana.“Udah, Al. turunin!” perintah Keeva, galak.Aldrich menurunkannya, tetapi tidak melepasnya.“Nih, gelasnya.”Lagi-lagi Keeva memekik kaget saat tiba-tiba Aldrich mendekatkan tubuhnya. Keeva yang mentok pada lemari kabinet tidak bisa menghindar.“Kok, muka kamu merah?” ujar Aldrich, suara rendahnya mendominasi.Sial! Keeva memaling mukanya, sejauh mungkin dari jangkauan mata Aldrich.Namun, belum sempat Aldrich lanjut menggodanya sebuah suara ketukan sepatu tiba-tiba bergema dari arah ruang tengah. Suara langkah kaki itu terdengar makin dekat kearah mereka.Kedua bola mata milik Keeva membulat sempurna. Tak berkata apa-apa lagi ia memutar posisi tubuh mereka, dan dalam sekejap m
Baca selengkapnya