Pagi itu, ruang istirahat residen di sudut paling sepi di lantai empat terasa sangat mencekam. Pintu kayu ek telah dikunci rapat oleh Marco Huston dari dalam, sementara Clara Manhann berdiri bersandar pada meja, melipat tangan di dada dengan tatapan yang menuntut penjelasan penuh. Di tengah-tengah mereka, Lily Braun duduk di kursi plastik dengan wajah pucat, meremas ujung jas laboratoriumnya yang terasa dingin."Jadi, Lily," Clara memulai konfrontasi, suaranya ditekan serendah mungkin agar tidak terdengar sampai ke koridor. "Kau mau menjelaskan sendiri, atau aku yang harus membacakan daftar barang mewah di lokermu beserta plat nomor limusin yang menjemputmu jam dua pagi tadi?"Lily menelan ludah, menatap Marco seolah meminta bantuan. Namun, Marco hanya mengangkat bahu, meski senyum tipis di wajahnya menunjukkan bahwa ia berada di pihak Lily."Clara, tolong kecilkan suaramu," bisik Lily panik. "Aku bisa menjelaskan semuanya.""Jelaskan apa, Lily?" sergah Clara lagi, melangkah mendekat.
Read more