Udara siang terasa begitu menusuk tulang, namun keringat dingin terus bercucuran di pelipis Lily Braun. Langkah kakinya terasa seberat timbal saat ia menyeberangi jalan aspal yang ramai, menuju sebuah kafe kecil dengan papan nama usang yang berada tepat di seberang rumah sakit.Melalui kaca jendela kafe yang buram oleh embun, Lily bisa melihat sesosok wanita paruh baya dengan pakaian kusam sedang duduk di sudut ruangan, meneguk secangkir kopi hitam dengan gestur yang kasar. Bibi Helga.Bunyi lonceng di atas pintu berdenting halus, membuat Helga langsung mendongak. Sepasang mata yang dipenuhi ketamakan itu seketika mengunci sosok Lily."Akhirnya kau datang juga, Keponakanku yang terhormat," sapa Helga dengan nada sinis. "Kira-kira butuh berapa lama bagi seorang wanita kaya raya sepertimu untuk menemui kerabat miskinnya yang kelaparan ini, hm?""Hentikan, Bibi," bisik Lily, suaranya bergetar hebat karena amarah dan rasa takut yang bercampur aduk. Ia melirik ke sekeliling kafe, memastika
Read more