Bumi memimpin jalan menaiki tangga pelan-pelan, dengan sebelah tangannya yang kokoh tak pernah lepas menopang pinggang Maura, memastikan langkah istrinya stabil di tiap anak tangga. Koper mereka sudah naik daritadi dibawa pak Supri."Nggak usah lebai, ah... Aku bisa." rengek Maura, berusaha mendorong Bumi mejauh, tapi gagal."Mas nggak tega." Balas Bumi.Sampi diatas, koper sudah berdiri manis di sebelah pintu bernomor 204. Begitu kunci diputar dan pintu kamar terbuka, aroma wewangian menyengat langsung menyambut mereka.Kamar itu memang tidak semewah hotel bintang lima, tapi tak buruk-buruk amat. Kecil memang, tapi cukup untuk mereka berdua.Sat masuk mereka sudah disambut pintu kamar mandi yang memang berhadapan dengan pintu masuk. Ranjang ada di sisi kiri kamar mandi itu. Tidak buruk, karena ranjang king size, hampir sama kayak di hotel biasanya mereka meginap. Sprei putih dan terlihat sangat empuk. Ada AC, ada TV, ada minuman beberapa botol, tisu, dan handuk di atas meja rias."Lu
Read more