Dua hari sebelum tanggal satu itu akhirnya tiba. Di dalam kamar yang ber-AC tapi tak nyala AC-nya, Maura sibuk dengan baju-baju. Dua koper besar ukuran 28 inci tergeletak menganga di atas karpet bulu. Maura yang mengenakan daster longgar warna pastel sibuk bolak-balik dari lemari ke tempat tidur, memilah-milah baju yang akan dibawa untuk perjalanan panjang mencari ibu kandungnya."Baju santai udah, kemeja Mas Bumi udah, jaket tebal udah, minyak angin satu kardus... aman," gumam Maura mengabsen isi koper."Ck. Maura dan minyak angin? Kampret!" gumamnya sendiri.Dia sibuk dengan koper, benar, tapi juga sibuk dengan HP-nya yang berdenting.HP yang tergeletak di atas kasur bergetar tanpa henti. Layarnya menyala, menampilkan rentetan notifikasi dari grup WhatsApp bernama, 'Tiga Serangkai Bebas Remedial', nama groub yang sudah di ganti entak ke berapa puluh kali.Dengan napas sedikit terengah gara-gara perutnya mulai terasa agak mengurangi ruang geraknya, Maura duduk diri di tepi kasur lalu
Leer más