"Sama-sama, Ma," bisik Maura menyunggingkan senyum hangat.Tepat saat suasana haru menyelimuti kamar, pintu ruangan mendadak terdorong dari luar. Sosok tegap berjas hitam lengkap dengan kacamata minusnya melangkah masuk. Bumi Arkatama berdiri di ambang pintu, membawa aroma parfum yang langsung mendominasi ruangan.Tapi, bukannya menyapa ramah, pandangan mata tajam Pak Dosen itu langsung mengunci posisi duduk Maura. Lebih tepatnya, mengunci bayi Kiara yang masih nyaman bertengger di atas memangkuan istrinya.Bumi menaikkan sebelah alisnya, lalu berjalan mendekat dengan langkah lebar."Maura," panggil Bumi, suaranya yang berat dan dalam memecah keheningan. "Kan Mas sudah bilang, jangan ngangkat beban lama-lama. Kenapa Kiara nggak ditaruh di boks?"Mama yang baru saja menghapus air matanya mendadak menoleh, reflex merasa terintimidasi oleh wibawa menantunya yang begitu protektif."Ini- Mama tadi udah nyuruh ditaruh boks, tapi Mauranya yang nggak mau," sahut Mama cepat-cepat.Maura mendon
Read more