“Ng, nggak tahu, Nak,” jawabnya pelan, lalu menoleh ke arah Maura. “Coba kamu cari di kamar kakakmu, Ra.”Maura langsung menghela napas panjang, kepalanya mendongak ke plafon seolah berharap ada jawaban jatuh dari sana. “Capek, Ma,” jawabnya lemas. Suaranya penuh penderitaan versi anak bungsu yang hidupnya mendadak jadi drama keluarga episode panjang.“Kalau dia pergi jauh, setiap jam itu penting,” potong Bumi tenang.Maura membuka mulut, lalu menutup lagi.'nyebelin. Tapi bener.'Dia menoleh ke Mamanya, berharap ada pembelaan, minimal satu kalimat yang berpihak padanya sebagai manusia yang kelelahan.Sayangnya, Mamanya malah mengangguk kecil. “Iya, Ra. Lebih cepat lebih baik." katanya menjeda. "Yaudah biar mama aja,”"Maura aja," sahut Maura cepat, langsung mengoreksi sebelum tanggung jawab itu benar-benar pindah. "Mama urusin Papa tuh," tunjuknya ke arah sang Papa yang masih duduk dengan wajah pucat."Makan, Pa... entar sakit, Maura yang repot." katanya.Dengan langkah berat dan waj
Last Updated : 2026-04-21 Read more