"Nggak cemburu, tapi judes gitu," kekeh Bumi renyah, suara baritonnya mengalun hangat memenuhi kabin mobil.Pandangannya tertuju pada Maura yang bibirnya mengerucut makin maju. Jemari Bumi terulur, mengusap lembut pipi istrinya yang kian berisi, membiarkan sentuhannya menenangkan emosi Maura yang naik turun.Ya, tentu karena dia sedang hamil."Lagian, buat apa Mas balas senyum?" lanjut Bumi santai. "Mata Mas udah nggak tertarik sama perempuan, selain istri Mas sendiri.""Prett!!" sahut Maura kesal.Bumi lagi-lagi cuma terkekeh mendengar respons istrinya. Tangan kirinya sengaja merangkul bahu Maura, menarik tubuh yang kini makin berisi itu agar bersandar di sampingnya dengan sebelah tangannya santai memegang kemudi."Prett-nya galak amat," goda Bumi, memiringkan kepala untuk mengecup sekilas di pelipis. "Beneran nggak tertarik, Sayang. Di mata Mas, mahasiswi itu cuma mahasiswa yang butuh bimbingan skripsi. Kalau kamu kan butuh bimbingan hidup.""Gombal!" dia mendongak sedikit. "Dosen k
Read more