Maura masih mematung, meremas jemari Papanya yang makin dingin. Pengakuan yang keluar langsung dari mulut sang Papa bagai hujan lokal yang membasahi tanah gersang di dadanya."Maura punya banyak pertanyaan, tapi Papa masih sakit. Papa istirahat dulu, biar cepet sembuh," kata Maura lalu.Dia hendak bergerak bangkit untuk melepaskan cardigan rajutnya yang mulai terasa terlalu tebal dan menyiksa, tapi jemari rapuh sang Papa menahannya lebih kuat dari perkiraan."Tanyakan Maura, semuanya, sekarang nggak apa-apa," kata sang Papa, suaranya parau bercampur rasa lelah yang menumpuk bertahun-tahun.Maura menoleh ke samping, enggan menatap mata pria yang tampak begitu hancur itu.Ada pertarungan hebat di balik matanya yang mendadak panas. Antara rasa takut mendengar kenyataan pahit, rasa mual yang sedari tadi merayap di tenggorokan, dan rasa lelah yang menghimpit dada. Tapi akhirnya, dengan hela napas berat, dia kembali duduk di kursi."Tanyakan aja, Papa jawab," ulang Papa penuh kepasrahan.Ke
Read more