"Joe, apa resepsinya kita batalin aja?" Opa Paul berdiri di sisi panggung, matanya menyapu ballroom hotel yang sudah tertata hampir sempurna. Lampu kristal di atas berkilauan, menyinari deretan meja yang tertutup kain sutra putih dengan rapi. Namun kemegahan itu terasa dingin, tak menyentuh hatinya yang sedang gelisah. Wajah tuanya tampak pucat dan lelah, kerutan di dahi semakin dalam oleh kecemasan. Sesekali dia melirik ke arah pintu masuk yang megah itu, matanya berharap sekelebat gaun putih akan muncul di sana—seolah semua kekacauan ini hanyalah mimpi buruk yang sebentar lagi berakhir. Namun waktu terus berlalu, dan perempuan yang seharusnya menjadi ratu hari ini tak kunjung terlihat. Hanya keheningan yang menyambut setiap harapannya. Daddy Joe yang berdiri beberapa langkah dari ayahnya langsung menggeleng. Punggungnya ditegakkan, meski pundaknya terasa begitu berat menanggung beban yang tak terlihat. "Jangan dibatalin, Pi." Opa Paul menoleh dengan dahi berkerut dalam, matan
Read more