Hari yang kami nanti-nantikan akhirnya tiba juga. Pagi itu, langit cerah bersih tanpa awan, seolah ikut merayakan langkah pertama kami mewujudkan impian. Di atas tanah warisan itu, kami berdiri berjejer bertiga—aku memegang cangkul kecil, Rara menggendong Arka yang masih memakai topi anyaman, dan di belakang kami berkumpul Ayah, Ibu, Pak Hadi, Bu Siti, serta beberapa tetangga dekat yang sudah seperti keluarga sendiri.“Jadi… mulai dari sini ya, Mas?” tanya Rara pelan sambil menatap tanah kosong di depan kami, matanya berbinar campur haru dan gembira. Ia mengusap lembut pipi Arka, lalu menoleh ke arahku. “Rasanya belum percaya saja. Dulu cuma bisa gambar di kertas, sekarang benar-benar mau kita bangun rumah kita sendiri.”Aku tersenyum lebar, lalu meletakkan tangan di bahunya sebentar sebelum menatap tanah itu dengan tekad mantap. “Benar, Sayang. Satu langkah kecil hari ini, tapi nanti jadilah tempat kita berlindung selamanya. Sederhana saja dulu, cukup untuk kita bertiga, tapi dibangu
続きを読む