Waktu terus berjalan, namun satu hal tidak pernah berubah: rumah kecil di pinggiran desa ini tak pernah terasa sepi atau dingin. Entah pagi, siang, atau sore, selalu ada suara tawa, obrolan hangat, atau langkah kaki yang datang dan pergi. Bukan karena bangunannya besar atau megah, tapi karena di dalamnya selalu terbuka lebar pintu hati bagi siapa saja yang butuh tempat beristirahat, berbagi cerita, atau sekadar butuh didengar.Suatu sore mendung, saat angin mulai berhembus agak kencang, kami duduk di ruang tengah sambil mendengarkan suara hujan yang mulai menetes di atap. Tiba-tiba terdengar ketukan pelan di pintu depan. Arka segera bangkit membukakan pintu, dan ternyata ada seorang pemuda baru yang pindah ke desa ini—seorang perantau yang sedang mencari kamar di kos-kosan kami, tampak bingung dan membawa tas ransel lusuh di pundaknya.“Maaf mengganggu… apakah benar di sini ada kamar yang disewakan?” tanyanya ragu-ragu, menunduk seolah takut ditolak. “Saya baru sampai, uang saya belum
続きを読む