Sore itu kami sedang duduk santai di teras sambil mengupas buah nangka matang hasil panen dari kebun belakang. Tiba-tiba lewatlah Pak Kasan, petugas kebersihan desa yang setiap hari berjalan berkeliling membawa sapu lidi dan keranjang sampah. Pakaiannya lusuh dan penuh bercak debu, wajahnya tampak lelah namun tetap tersenyum ramah pada siapa saja yang ia temui.Saat ia melewati depan rumah kami, Bima yang sedang memegang sepotong nangka manis tiba-tiba berucap dengan suara cukup keras, “Ih, kotor sekali bajunya. Kenapa harus jadi tukang sapu sih? Pasti tidak punya uang untuk kerja yang bagus.”Kami semua terdiam sejenak. Rara segera meletakkan pisau di tangannya, lalu memanggil Bima mendekat dengan lembut namun tegas. Arka segera bangkit, menyapa Pak Kasan dengan sopan, mempersilakannya berhenti sebentar untuk minum dan beristirahat sejenak.“Bima, nak, kemarilah sebentar,” panggil Rara pelan. Matanya tidak marah, tapi meminta perhatian penuh. “Tadi apa yang kamu katakan? Coba ulangi
続きを読む