Sore itu hujan turun rintik-rintik lembut, membawa udara sejuk yang menusuk sedikit sampai ke tulang. Kami baru saja selesai minum teh hangat bersama di ruang tengah, ketika terdengar ketukan pelan di pintu depan. Arka segera bangkit membukanya, dan di balik pintu berdiri sepasang anak muda yang baru setahun menikah—Dika dan Sari, tetangga di ujung jalan sebelah utara. Wajah mereka sama-sama merah padam karena baru saja bertengkar hebat, mata Sari bengkak menahan tangis, sedangkan tangan Dika mengepal erat menahan emosi.“Maaf mengganggu hujan-hujan begini, Pak, Bu,” ucap Dika parau sambil menunduk malu. “Kami… kami butuh nasihat. Rasanya kami sudah tidak sanggup lagi mempertahankan rumah tangga ini.”Rara segera bangkit menyambut, mengajak mereka duduk di dekat perapian kecil agar terasa hangat, lalu menyodorkan dua gelas teh jahe panas yang masih mengepul. “Duduklah tenang dulu, Nak. Tidak ada masalah sebesar apa pun yang tidak ada jalan keluarnya selama kalian masih mau duduk bersa
続きを読む