Senja itu berwarna jingga keemasan, langit bersih tanpa awan, angin berhembus lembut menyentuh kulit. Aku dan Rara duduk di kursi rotan tua di teras, menikmati ketenangan yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Arka dan Bima pulang dari ladang dengan langkah ringan, wajah mereka berseri namun terlihat lelah. Mereka duduk di hadapan kami sambil menghela napas panjang.“Kakek, Nenek,” ucap Bima pelan, “kami sudah memiliki rumah yang layak, makanan yang cukup, keluarga yang sehat, dan rezeki yang selalu tercukupi. Namun entah mengapa, kadang hati kami masih merasa gelisah. Pikirannya sering berpacu: besok bagaimana? Bagaimana kalau panen gagal? Bagaimana kalau sakit datang? Rasanya damai itu selalu terasa jauh, seakan tak pernah bisa digenggam.”Aku tersenyum lembut, lalu menunjuk ke arah sebuah mangkuk kaca bening yang berisi air keruh dan berdebu di atas meja. “Lihatlah air ini Nak. Saat dikocok, ia keruh dan tak bisa memantulkan bayangan apa pun. Tapi kalau kau diamkan sebentar, de
続きを読む