LOGINBimo mahasiswa yang baru pindah kos, tidak menyangka akan bertemu dengan Rara, ibu kosnya yang cantik dan penuh pesona . awalnya hanya hubungan ibu kos dan penghuni kos saja, tapi perlahan-lahan mereka terjebak dalam pesona satu sama lain, terlibat dalam hubungan rahasia yang penuh dengan gairah dan drama dibawah atap kos yang sama.
View MoreSuasana sore itu terasa sangat pengap. Matahari masih saja bersinar terik meski sudah mulai condong ke barat, membuat keringat terus menetes dari pelipis hingga membasahi punggungku. Aku baru saja melangkah masuk ke halaman kos-kosan tempatku tinggal, membawa rasa lelah yang menumpuk seharian penuh setelah bekerja keras.
"Assalamualaikum," ucapku pelan sambil membuka pintu gerbang besi yang berdecit nyaring. "Waalaikumsalam, Mas Bimo..." Jawaban itu datang bukan dari jauh, melainkan tepat di sebelahku. Suaranya lembut, terdengar manja namun memiliki nada yang sangat khas—nada yang selalu berhasil membuat jantungku berdegup lebih kencang dari biasanya. Aku menoleh perlahan, dan seperti dugaan, di sana berdiri wanita yang selama ini menjadi sumber gangguan terindah di hidupku. Bu Rara. Pemilik kos ini memang terkenal di sekitar sini. Bukan karena kosannya yang mewah, tapi karena pemiliknya yang masih muda, cantik jelita, dan statusnya yang masih janda. Usianya baru menginjak 27 tahun, tapi pesonanya jauh melebihi wanita-wanita seusianya. Ada aura kedewasaan yang bercampur dengan keluguan yang seolah dipalsukan, membuat siapa saja yang melihatnya pasti akan tergoda. Seperti sore ini, penampilannya sungguh memikat mata. Ia mengenakan kaos oblong berwarna putih bersih yang cukup ketat, memperlihatkan dengan jelas lekuk tubuhnya yang montok dan terawat sempurna. Dipadukan dengan celana pendek jeans pendek yang sobek di bagian lutut, menampakkan kakinya yang jenjang, putih, dan mulus. Ia tidak memakai alas kaki, membuat penampilannya terlihat semakin santai namun justru terlihat semakin seksi. "Baru pulang, Mas?" tanyanya sambil tersenyum miring. Senyum itu bukan senyum biasa, melainkan senyum yang penuh makna, senyum yang seolah tahu betul efek yang ditimbulkannya padaku. "I-iya, Mbak Rara," jawabku terbata. Aku berusaha sekuat tenaga untuk tidak menatap bagian tubuhnya yang terlalu terbuka, tapi rasanya mataku seolah memiliki keinginan sendiri untuk terus mengikutinya. "Panas banget di luar." "Iya ya, panas banget. Makanya Mbak pake baju yang enak-enak gini biar adem," jawabnya santai, seolah tidak sadar atau memang sengaja mengatakan hal itu. Ia malah melangkah mendekat, membuat jarak di antara kami semakin menyempit. Aroma parfum mahal bercampur dengan wangi tubuh alaminya langsung menyeruak masuk ke hidungku. Wangi yang manis namun sedikit bold, sangat mewakili kepribadiannya. "Mas Bimo ini lucu ya kalau gugup," bisiknya pelan saat sudah berdiri tepat di depanku. Bahunya hampir menyentuh dadaku. "Panggil Rara aja dong, kan kita nggak beda jauh umurnya. Masih muda kan Mbak?" Tangannya tiba-tiba terulur, merapikan kerah bajuku yang sedikit berantakan karena keringat. Gerakannya lambat, sengaja, dan sangat lembut. Jari-jarinya yang lentik dan hangat itu menyapu leherku, membuat bulu kudukku serentak berdiri. "Bajunya kusut nih... Hati-hati dong, nanti dibilang nggak diurusin sama Ibu kosnya," ucapnya sambil menatap mataku dalam-dalam. Tatapannya itu tajam, tajam sekali, seolah ingin menembus masuk ke dalam jiwaku. Aku hanya bisa menelan ludah dengan susah payah. "Makasih, M-mbak..." "Eh, masih panggil Mbak juga?" ia mendecakkan lidah, lalu tangannya yang tadi di kerah bergerak turun menyapu dada kemejaku. "Mas Bimo tuh dari pertama masuk sini, Mbak tahu kok kalau Mas suka curi-curi pandang liat Mbak." Jantungku rasanya mau copot mendengar pengakuannya itu. "Bukan gitu Mbak, aku..." "Sstt... nggak usah dibantah," potongnya lembut sambil menempelkan jari telunjuknya di bibirku. "Mbak malah suka lho. Kan enak kalau ada yang ngeliatin, berarti Mbak masih menarik kan?" Ia tersenyum semakin lebar, lalu sedikit menarik ujung kaosnya ke atas, memperlihatkan sedikit kulit perutnya yang putih mulus. "Lagipula kan Mbak juga janda... nggak ada yang melarang Mbak buat cantik-cantik, kan?" "Mas..." panggilnya lagi, kali ini suaranya berubah menjadi lebih lembut dan mendayu. Ia mendekatkan wajahnya, hingga aku bisa merasakan hangatnya hembusan napasnya. "Mas nggak kepingin apa-apa selain cuma liat-liat?" Pertanyaannya itu seperti sebuah tantangan. Sebuah godaan yang sangat besar. Di hadapanku berdiri wanita secantik dan sesehat dia, yang dengan terang-terangan menawarkan pesonanya. Udara di sekitar kami seketika terasa semakin panas dan pengap, bukan karena cuaca, tapi karena ketegangan yang tercipta di antara dua orang yang saling tertarik namun terhalang status. Aku tahu aku harus menjaga jarak. Dia adalah Ibu kosku, dan aku hanyalah penyewa. Tapi melihat caranya menatapku, melihat caranya bergerak, dan merasakan sentuhan tangannya... rasanya pertahananku mulai runtuh satu per satu. Rara tertawa kecil melihat wajahku yang memerah padam. "Mas Bimo ini manis banget sih... Yaudah, masuk sana istirahat. Nanti kalau butuh apa-apa, panggil Mbak ya. Mbak ada di kamar terus kok hari ini..." Ia mengedipkan sebelah matanya genit, lalu berbalik badan dengan gerakan pinggul yang sangat terasa, meninggalkanku yang masih terpaku di tempat, dengan jantung yang berpacu kencang dan imajinasi yang mulai liar membayangkan apa yang mungkin terjadi selanjutnya.Pagi itu, sinar matahari menyelinap masuk lewat celah jendela ruang makan, menerangi wajah-wajah penghuni kos yang sedang berkumpul untuk sarapan pagi seperti biasa. Suasana pagi itu terasa sedikit berbeda, ada ketegangan samar yang menguar di udara, mungkin karena semalam bisik-bisik dan gosip tentang kami makin merajalela. Semua orang duduk di meja panjang, mengunyah makanan sambil sesekali saling bertukar pandangan atau berbisik pelan, dan aku tahu persis topik pembicaraan mereka adalah aku dan Rara.Rara sendiri sudah ada di sana sejak tadi, duduk di ujung meja sebagai pemilik kos. Wajahnya tampak tenang namun aku bisa melihat betapa berat dan cemasnya hatinya dari sorot matanya yang sesekali melirik ke arahku dengan tatapan meminta dukungan. Ia mengenakan pakaian sederhana namun tetap rapi, berusaha sekuat tenaga untuk bersikap wajar, meski jelas terasa ada sesuatu yang berbeda dari sikapnya hari ini.Rio duduk di sisi lain, dengan senyum miring yang tak pernah hilang dari bibirn
Malam itu, suasana di dalam kamar Rara terasa hening dan berat. Hanya ada cahaya lampu tidur yang remang-remang, menciptakan bayangan-bayangan lembut di wajah wanita yang sangat kucintai itu. Rara duduk bersila di atas kasur, tubuhnya terbungkus kain selimut tipis, namun tatapannya kosong menatap ke arah jendela yang tertutup rapat. Matanya masih tampak sembab sisa menangis sore tadi, dan hatinya aku tahu masih terasa perih mendengar semua hinaan dan omongan buruk dari orang-orang di luar sana.Aku duduk di sampingnya, merangkul bahunya dan menariknya perlahan agar bersandar nyaman di dadaku. Aku bisa merasakan hembusan napasnya yang berat dan tidak tenang."Mas beneran serius kan tadi?" tanyanya lirih, suaranya terdengar ragu dan takut. "Mas mau ngakuin hubungan kita di depan semua orang besok pagi? Mas nggak takut? Nanti kalau mereka makin jahat ngomongnya gimana? Nanti kalau Mas jadi susah di tempat kerja, atau dikucilkan sama tetangga gimana? Semua itu bakal nimpa Mas juga lho...
Sejak percakapan di dapur itu, rasanya udara di sekeliling kos-kosan makin terasa berat dan menyesakkan. Seolah ada angin berbahaya yang berhembus kencang, membawa bibit-bibit fitnah yang disebarkan Rio ke segala penjuru. Awalnya cuma bisik-bisik pelan, sekadar tatapan mata yang saling bertukar isyarat atau senyum miring yang penuh makna tersembunyi. Tapi lama-kelamaan, suara-suara itu makin keras, makin jelas, dan makin tajam menyakiti hati kami berdua. Rio seolah menjadi pemimpin dari semua kehebohan ini. Entah cerita apa yang ia rangkai, entah bumbu apa yang ia tambahkan, tapi hampir semua penghuni kos kini menatap kami dengan pandangan yang berbeda. Bukan lagi pandangan biasa antara pemilik dan penyewa, melainkan pandangan penuh selidik, sindiran, rasa ingin tahu, dan juga rasa jijik bagi sebagian orang yang berpikiran sempit. "Eh, denger nggak sih? Katanya Bu Rara sama Mas Bimo deket banget ya belakangan ini? Lebih dari sekadar akrab, lho..." "Iya lho, aku juga denger dari Rio.
Sejak kejadian di depan pintu kamar itu, suasana di lingkungan kos-kosan terasa berubah drastis. Udara yang biasanya biasa saja, kini terasa penuh dengan ketegangan dan rasa waspada yang tinggi. Meskipun kami berusaha sekuat tenaga untuk bersikap wajar, menutupi segala sesuatu sebaik mungkin, dan berpura-pura tidak ada apa-apa, rasa cemas dan takut itu selalu menghantui pikiran kami setiap detiknya. Setiap kali ada langkah kaki yang terdengar mendekat, atau ada suara orang memanggil nama salah satu dari kami, jantung kami seketika berdegup kencang, takut rahasia besar yang kami jaga rapat-rapat itu akan terbongkar juga suatu saat nanti. Rio, orang yang sempat membuat kami hampir ketahuan itu, ternyata tidak berhenti hanya sampai di situ saja. Sikapnya berubah total. Sejak hari itu, ia terlihat semakin sering berkeliaran di sekitar kamar Rara, sering berada di posisi yang tidak wajar seolah sedang mengamati, dan matanya selalu mengikuti ke mana pun Rara pergi. Pandangannya tajam, penuh
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.