ANMELDENCiuman Aksa terasa begitu menghukum, menyapu bersih seluruh pasokan udara di paru-paru Alana. Kedua tangan Alana yang semula mencengkeram bahu Aksa untuk mendorongnya, perlahan-lahan kehilangan tenaga. Dominasi pria itu terlalu mutlak, menuntut kepatuhan yang selama ini selalu Alana sangkal di dalam hati.
Ketika Aksa memberikan sedikit celah untuk bernapas, Alana langsung memalingkan wajahnya dengan napas terengah-engah. Kepala gadis itu bersandar lemas di bahu tegap suaminya.Keira meremas struk apotek itu di dalam genggamannya, menyembunyikannya ke dalam saku kulot sebelum Alana menyadari keterkejutannya. Pikirannya berputar liar. 'Susu ibu hamil? Vitamin pranikah? Atas nama Pak Aksa?' Detektif di dalam diri Keira mendadak bangun total. Tak lama kemudian, Elara kembali masuk ke lobi setelah memastikan Bara benar-benar melesat pergi dengan motornya. "Hah! Capek banget badak satu itu kalau lagi ngamuk. Al, kamu nggak apa-apa?" "Aku nggak apa-apa, El. Makasih ya udah bantuin," jawab Alana, napasnya masih agak memburu karena sisa ketegangan tadi. Keira berjalan mendekat, memasang senyum manis yang sengaja dibuat sealami mungkin. "Al, ini udah hampir jam dua belas malam. Angkutan umum udah nggak ada, kosan aku juga gerbangnya pasti udah dikunci jam sebelas tadi. Kosan Elara 'kan searah sama aku. Gimana kalau... malam ini kita menginap di tempat kamu aja?" "Eh?" Alana tersentak, matanya melebar panik. "M-Menginap di sin
"Sekarang jawab jujur, Al... Kenapa kamu bisa tinggal di apartemen mewah milik Pak Aksa, dosen pembimbing kamu sendiri, malam-malam begini?!" Suara Bara yang meninggi laksana guntur di lobi Kuningan Residence yang sunyi. Cengkeramannya di bahu Alana membuat gadis itu terpaku dengan wajah pias. Di samping mereka, Elara dan Keira melangkah mundur satu langkah, mata mereka membelalak sempurna menanti jawaban. Atmosfer lobi mendadak mencekam, siap meruntuhkan seluruh dinding rahasia Alana. "Ada masalah di sini, Saudara Bara?" Sebuah suara bariton yang teramat familier, dengan nada santai namun sarat akan wibawa yang memotong ketegangan, tiba-tiba terdengar dari arah lift koridor utama. Semua kepala refleks menoleh. Aksa Dewantara berjalan mendekat dengan langkah kasual. Tidak ada setelan jas formal atau kemeja kaku dosen yang biasa ia kenakan di kampus. Malam ini, Aksa hanya memakai kaus oblong putih polos berpotongan pas badan, celana jins hitam,
Jantung Alana seakan berhenti berdetak melihat wajah Bara yang terpampang jelas di layar interkom unit penthouse. Hubungan mereka yang belum berakhir, namun merenggang karena pernikahan siri ini, membuat kehadiran Bara selalu menjadi bom waktu. "M-Mas Aksa... bagaimana ini?" bisik Alana panik, suaranya bergetar hebat. "Bara nekat sekali sampai naik ke atas. Kalau Papa dan Mama lihat..." Aksa tetap mempertahankan ekspresi tenangnya yang dingin, meskipun kilat amarah dan cemburu sempat melintas di matanya. Aksa menoleh sekilas ke arah ruang tengah, di mana Papa Damar dan Mama Ratna sedang berbincang santai setelah menempuh perjalanan jauh. Sebagai sesama kalangan pengusaha yang menghormati persahabatan lama, kedatangan orang tua Alana adalah kehormatan, sekaligus ujian berat untuk menyembunyikan status pernikahan siri ini dari publik kampus. "Alana, dengarkan saya," ucap Aksa dengan suara rendah namun teramat tegas, mencengkeram lembut kedua bahu Alana. "Jangan biarkan dia membuat ke
Di dalam unit penthouse, keheningan malam yang tenang setelah momen intim mendadak pecah oleh suara dering telepon rumah yang terhubung langsung dengan meja resepsionis lobi bawah. Aksa yang baru saja memakai kembali kaus rumahannya segera melangkah ke ruang tengah, sementara Alana mengekor di belakang dengan perasaan tidak enak yang tiba-tiba merayap di dadanya. Aksa mengangkat gagang telepon interkom. "Ya, selamat malam. Ada apa?" "Selamat malam, Pak Aksa. Mohon maaf mengganggu waktunya," suara petugas lobi terdengar dari seberang. "Di bawah ada seorang tamu paruh baya bernama Bapak Damar Danuarta. Beliau mengatakan sebagai ayah dari Ibu Alana dan ingin berkunjung ke unit Anda. Apakah diperbolehkan naik?" Mendengar nama itu disebut, mata Alana seketika membelalak sempurna. "P-Papa?!" pekik Alana tertahan, tangannya langsung gemetar hebat. Aksa menatap Alana dengan keterkejutan yang sama, namun ia dengan cepat menguasai diri. "Baik, tolong an
Malam semakin larut, namun hawa dingin di luar kompleks Kuningan Residence seolah tidak mampu membekukan darah Bara yang sedang mendidih. Di bawah lampu jalan yang temaram, beberapa puluh meter dari pos penjagaan utama yang dijaga ketat, Bara berdiri menyandarkan tubuhnya pada jok motor. Jaket denimnya terasa lembap oleh embun malam, tetapi sepasang matanya tidak berkedip sedikit pun, terus mengunci pandangan ke arah menara apartemen megah tempat Alana berada. Dua puluh panggilan teleponnya diabaikan total. Pesan demi pesan yang ia kirimkan hanya berakhir dengan tanda centang abu-abu. "Lo bener-bener berubah, Al. Lo sengaja ngilang dan sembunyi di balik ketiak dosen kaya itu, kan?" desis Bara dengan suara serak, meremas ponsel di tangannya hingga buku jarinya memutih. Rasa diabaikan, cemburu, dan penasaran yang menumpuk selama beberapa hari terakhir akhirnya membuat Bara kehilangan akal sehat. Ia nekat mendatangi kompleks elit ini malam-malam, menerobos
Kamar tidur utama itu kembali dilingkupi kesunyian saat jarum jam merayap ke angka tujuh malam. Pendingin ruangan berdesing halus, meniupkan hawa sejuk yang perlahan menenangkan tubuh Alana. Perlahan, kelopak mata yang terasa seberat timah itu mulai terbuka. Alana mengerjapkan matanya beberapa kali, menyesuaikan penglihatan dengan temaram lampu tidur yang sengaja diredupkan. Kepalanya tidak lagi terasa seringan kapas yang berputar, dan rasa terbakar di sekujur tubuhnya telah menguap, digantikan oleh keringat yang membuat kaus rumahnya terasa lembap. Demamnya telah turun. Saat Alana mencoba menggerakkan lengan kirinya, ia merasakan sebuah kehangatan yang kokoh mengunci jemarinya. Ia menoleh ke samping tempat tidur. Aksa ada di sana. Pria itu tertidur dalam posisi duduk di lantai, dengan melipat kedua tangannya di tepi kasur sebagai bantalan kepala. Wajah tegas yang biasanya selalu memancarkan wibawa dingin itu kini tampak teramat lelah. Gurat kecemasan m
Sementara konspirasi busuk antara Gladis dan Pak Subroto mulai merajut jaring penghancur di luar sana, Alana sedang berada di dalam unit penthouse Kuningan Residence. Siang itu terasa begitu sepi karena Aksa harus mengisi kelas penuh hingga sore hari di kampus. Alana duduk di sofa ruang tengah, m
Aksa menahan diri kuat-kuat untuk tidak melayangkan pukulan ke wajah memuakkan Subroto di koridor kampus siang itu. Fokus utamanya adalah Alana. Sesuai prediksi, rapat pleno dewan penguji akhirnya mengetuk palu: Alana Danuarta dinyatakan lulus sidang Bab 2 dengan nilai sempurna—sebuah pencapaian
Hening yang mencekam mencengkeram ruang sidang 302. Pak Subroto bersandar di kursinya dengan senyum kemenangan yang semakin lebar, yakin bahwa mahasiswi di depannya telah masuk ke dalam perangkap mati. Di sudut ruangan, rahang Aksa mengeras sempurna, buku-buku jarinya memutih menahan desakan untu
Penyatuan jiwa yang syahdu malam itu seolah menjadi ketenangan terakhir sebelum badai sesungguhnya menghantam di dunia nyata. Hari yang paling mendebarkan dalam kalender akademik Alana Danuarta akhirnya tiba. Pagi itu, koridor lantai tiga Gedung Fakultas Ekonomi tampak sunyi, namun suasana di dep







