Share

Bab 60

Author: Adelia
last update publish date: 2026-05-26 17:10:12

​Ruangan rapat itu mendadak menjadi sangat sunyi, seolah-olah seluruh pasokan oksigen baru saja disedot keluar dari ventilasi udara. Wajah William seketika berubah abu-abu, kepalan tangannya di atas meja bergetar menahan malu dan amarah yang diredam oleh otoritas jabatanku. Mr. Chen memeriksa dokumen di layar selama beberapa saat, sebelum akhirnya mengangguk perlahan dengan senyum tipis yang sarat akan rasa hormat yang baru.

​"Eksekusi yang sangat bersih, Ibu Anindya," ucap Mr. Chen,
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Amnesti Sang Eksekutor    Bab 65

    Aku menahan napas selama satu ketukan penuh, mempertahankan senyuman dinginku di depan kamera tanpa menggeser tubuhku satu inci pun. Aku membiarkan perih dari cengkeramannya menjadi bahan bakar baru bagi dendam yang terus kupelihara di dalam rahim jiwaku.​Konferensi pers berakhir tepat pukul dua belas siang dengan penandatanganan berkas final bermaterai di atas podium. Begitu para direksi Merlion Ventures dan jurnalis mulai membubarkan diri menuju ruang perjamuan, tim pengawal pribadi segera membimbingku dan Arkana menuju ruang tunggu VIP yang terletak di balik panggung utama ballroom.​Begitu pintu jati tebal ruang privat itu menutup dan mengunci secara otomatis dengan bunyi klik yang berat, keheningan Jakarta yang megah mendadak berganti menjadi atmosfer perang yang menyesakkan. Aku langsung menyentakkan tubuhku, membebaskan diri dari dekapannya yang sempat ia pamerkan di depan pintu tadi. Aku berjalan menuju meja kaca, menuangkan secangkir air es dengan tangan

  • Amnesti Sang Eksekutor    Bab 64

    Lampu-lampu sorot dari puluhan kamera media nasional dan internasional memancarkan kilatan putih yang konstan, memantul di atas permukaan meja panjang berlapis kain beledu hitam di ballroom utama Grand Hyatt Jakarta. Pagi ini, Jakarta terasa begitu pengap oleh aroma ambisi dan kepentingan korporat. Di sekelilingku, bisik-bisik dari para jurnalis ekonomi dan pengamat saham menciptakan dengungan konstan yang memekak telinga, menanti pengumuman yang akan mengubah peta bisnis Asia Tenggara. ​Aku duduk di atas kursi sandaran tinggi tepat di tengah podium megah, dibalut blazer hitam berpotongan asimetris yang kaku. Di balik lapisan kain mahal itu, tepat di atas jantungku yang berdegup kaku, ponsel rahasia dan diska lepas perak dari Singapura tersimpan dengan aman, sebuah detonator diam yang terus bergesek dengan kulit dadaku, mengembalikan kewarasanku setiap kali atmosfer ruangan ini mencoba melumpuhkanku. ​Di sebelah kananku, duduk Arkana. Pria itu adalah ma

  • Amnesti Sang Eksekutor    Bab 63

    "Aku merindukan nuraniku yang kau curi, Arkana!" teriakku pelan, air mata amarah yang murni akhirnya pecah, mengalir melewati pipiku yang panas. Aku mencoba menyentakkan tanganku dari cengkeramannya, namun tubuhnya yang kokoh sekeras karang menolak memberikan ruang sekecil apa pun untukku meronta. "Aku membencimu karena kau berhasil membuatku menjadi monster yang sama kejamnya denganmu! Aku membenci diriku sendiri karena tubuhku selalu mengkhianati logikaku setiap kali kau menyentuhku!" ​"Maka biarkan tubuhmu menyelesaikan pengkhianatan itu malam ini, Anindya," bisiknya parau, binar gairah gelap yang meluap pasca-peperangan argumen tadi langsung tersulut di matanya. ​Ia tidak memberikan waktu bagiku untuk menarik napas atau memikirkan dokumen akuisisi yang berserakan di Jakarta. Arkana menarik tubuhku dengan satu sentakan kuat, memaksaku bangkit dari kursi dan menyeretku menuju kabin privat di bagian belakang jet, sebuah ruangan istirahat kecil yang ter

  • Amnesti Sang Eksekutor    Bab 62

    Deru sayap Gulfstream G650ER yang membelah awan hitam di atas Selat Karimata terdengar seperti nyanyian kematian yang konstan di telingaku. Di luar jendela kabin jet pribadi, kilat badai sesekali menyambar, menerangi kegelapan langit sore yang pekat. Di dalam ruang eksekutif yang kedap suara ini, aku duduk tegak dengan tangan yang mencengkeram erat pinggiran cangkir porselen berisi teh chamomile yang sudah mendingin.​Blazer sewarna darah yang kukenakan sejak rapat di Singapura tadi terasa kaku, membungkus tubuhku seperti zirah pelindung yang mulai retak. Di balik lapisan kain mahal itu, tepat di atas jantungku yang berdegup dengan ritme yang gila, ponsel rahasia dan diska lepas perak dari Arkana bersemayam dengan dingin. Logamnya yang beku terasa seolah sedang menyedot sisa-sisa kehangatan dari kulit dadaku, mengingatkanku bahwa aku baru saja melewati batas paruh pertama dari labirin berbahaya ini.​Di seberang lorong kabin yang sempit, Arkana duduk dengan keanggu

  • Amnesti Sang Eksekutor    Bab 61

    Dengan satu gerakan kuat yang sarat akan kekuasaan absolut, Arkana mengangkat tubuhku, mendudukkanku di atas meja rapat granit hitam yang sedingin es. Lembaran kertas catatan kosong dan pulpen montblanc-ku tersenggol, jatuh berhamburan ke atas lantai marmer di bawah kaki kami. Kontras antara dinginnya batu granit yang membekukan paha dalamku dan panas tangan besarnya yang merayap kasar merobek belahan rok kerjaku hingga ke pangkal paha membuatku melengkungkan punggung dengan pasrah.​Arkana merenggut pakaian dalamku dengan gerakan tidak sabar yang kasar, melepaskan ikat pinggang dan kancing celananya dengan ketenangan seorang pria yang sedang mengambil hak miliknya secara mutlak. Saat ia membenamkan dirinya ke dalam tubuhku dalam satu hunjaman yang dalam, kuat, dan penuh kuasa, aku memekik kecil, menyembunyikan wajahku di ceruk lehernya yang basah oleh peluh. Aku mencengkeram bahu bidangnya dengan kuku-kukuku, meninggalkan bekas merah yang dalam di kulitnya, seolah-olah aku

  • Amnesti Sang Eksekutor    Bab 60

    ​Ruangan rapat itu mendadak menjadi sangat sunyi, seolah-olah seluruh pasokan oksigen baru saja disedot keluar dari ventilasi udara. Wajah William seketika berubah abu-abu, kepalan tangannya di atas meja bergetar menahan malu dan amarah yang diredam oleh otoritas jabatanku. Mr. Chen memeriksa dokumen di layar selama beberapa saat, sebelum akhirnya mengangguk perlahan dengan senyum tipis yang sarat akan rasa hormat yang baru.​"Eksekusi yang sangat bersih, Ibu Anindya," ucap Mr. Chen, menutup berkas di depannya. "Merlion Ventures menyetujui percepatan merger ini. Jadwal penandatanganan final akan tetap dilakukan minggu depan di Jakarta."​Rapat resmi dibubarkan pukul sebelas siang. Para direksi regional melangkah keluar ruangan dengan kepala menunduk saat melewati kursiku, menyisakan ruang pertemuan yang luas dan kaku itu dalam kesunyian yang pekat. Aku tetap duduk di kursi kebesaran, membiarkan seluruh tubuhku lemas pasca-tekanan psikologis yang luar biasa sejak fa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status