Emma menepuk pelan bahu Kakaknya sambil tertawa kecil. "Kak Kai, apaan sih? Arsen cuma nganterin kopi kok." Seketika, raut wajah Kai yang semula dingin bagai es berubah seratus delapan puluh derajat saat menoleh pada Emma. Tatapannya meleleh penuh kasih sayang dan rasa hormat. "Emma sayang, adikku yang paling pintar dan cantik, kamu harus hati-hati. Cowok modelan kayak gini nih yang biasanya tukang gombal dan manis-manis di depan, tapi ujung-ujungnya bikin pusing." "Dengar ya, Kai," sela Arsen sambil menyilangkan tangan di dada, terkekeh sinis. "Gue nggak ada niat buruk sama Emma. Gue cuma ajak dia ngobrol, ngasih dia kopi kesukaannya dan kalau mau, gue antar pulang sekalian." Kai kembali menoleh pada Arsen, mimik mukanya langsung berubah galak lagi. "Gue yang bakal antar adik gue pulang. Lo nggak usah sok-sokan jadi pahlawan kesiangan, lo kan sama bejadnya kayak si Raka itu. Mana tahu lo sekongkol ama dia?" "Kak Kai," tegur Emma lembut, menatap kakaknya dengan mata bulatnya.
Read more