"Kapan rencana Ayahmu akan disemayamkan, Nak?" tanya Rosalinda sambil merangkul bahu Emma. Mata gadis itu sembap, tetapi air matanya sudah berhenti mengalir. "Aku belum tahu, Ma," jawab Emma pelan. Kai yang melihat adiknya tanpa semangat, segera mendekatinya dan menggenggam erat jemari Emma. "Lo nggak sendiri, gue ama Mama ada buat lo." Baru saja Emma mau menjawab, di luar gedung terdengar suara dorongan dan teriakan pecah. "Lepasin gue! Gue cuma mau ketemu Emma! Emma! Ini gue, Raka!" Raka memberontak liar. Kemejanya kusut, sudut bibirnya yang robek masih berdarah. Empat pengawal bertubuh tegap menahan dadanya, menjauhkannya dari pintu jati rumah duka. Emma menoleh pelan. Teriakan Raka yang terdengar putus asa menembus keheningan ruangan. Diamenghela napas panjang, lalu berbisik pada Kakaknya, "Izinkan dia masuk, Kai." Kai menatap adiknya sejenak. "Lo yakin mau kasih dia masuk?" "Iya, nggak apa-apa." Kai berjalan mondar-mandir sebentar, dia tidak rela kalau adik tersayangnya
Read more