Emma melangkah masuk dengan santai, mengapit lengan Pak Ridwan, sementara Kai berjalan di sisi satunya sambil memutar-mutar flashdisk di jarinya dengan senyum mengejek. Dia menghentikan langkahnya di tengah koridor ruang rapat, membalas tatapan melotot Renata dan Paman Hendra dengan senyuman paling dingin yang pernah ada. "Maaf ya, Tante Renata, Paman Hendra ... penerbangan helikopter kami agak terlalu cepat," bisik Emma manis. Suaranya menggema di ruangan yang mendadak hening itu. "Kamu ..." Jari telunjuk Ibu Renata mengarah pada Emma dengan mata membelalak. "Iya, ini aku Emma. Hmm, jadi, acara utamanya bisa kita mulai sekarang?" Selesai Emma berucap, di belakang mereka, empat anggota kepolisian berseragam lengkap menyusul masuk. Paman Hendra tersentak kaget dan berdiri dari kursinya. "Ridwan?! Apa-apaan ini? Kenapa kamu bawa polisi segala ke ruang rapat internal perusahaan?!" "Duduk kembali di kursimu, Hendra," suara Pak Ridwan menggelegar tenang, tapi penuh tekanan
Read more