“Permisi, Raden.” Terdengar ketukan lembut dari arah pintu. Biasanya pintu Kai tidak tertutup rapat , tapi sore ini, dia tidak mau diganggu siapa pun. Bahkan miscall dari Arsen pun diabaikan olehnya. Dengan langkah terpaksa, Kai membuka pintu. “Ada apa, Mbak?” “Den, apa makan malamnya mau disajikan sekarang?” “Aku belum lapar, Mbak. Tapi kalau Mama udah turun dan siap untuk dinner, kasih tahu aku.” “Baik, Den.” Pelayan itu pun segera berlalu dari sana. Kai kembali ke kasur kesayangannya dan merebahkan tubuhnya dengan posisi nyaman. Langit sore di balik jendela mulai menggelap, menyisakan bias jingga yang samar masuk ke dalam ruangan bernuansa abu-abu itu. Biasanya, suasana kamar mampu membuat kepalanya lebih tenang. Namun, ini berbeda. Nama Emma terus berputar seperti lagu rusak di otaknya. Kai mengusap wajah kasar. “Jangan-jangan aku kena Emma Effect!?” gerutunya lirih. Ponselnya kembali bergetar di atas nakas. Nama Arsen lagi dan lagi. Entah udah kesekian k
Last Updated : 2026-05-27 Read more