Emma menatap laptop pemberian kampus yang terletak rapi di atas meja tua yang telah menemaninya bertahun-tahun. Baik itu saat makan, belajar, menghabiskan waktu bersama Ayah, meja itu telah menjadi sahabat Emma."Mungkin lebih baik aku belajar sebentar," putus Emma.Tumpukan buku coding, AI, machine learning, dan algoritma masih terbuka berantakan sejak beberapa hari terkahir.Emma berjalan mendekat perlahan. Malam ini, ia butuh pelarian.Tangannya menyentuh laptop itu dengan hati-hati, seolah menyentuh sesuatu yang rapuh sekaligus berharga. Ia menekan tombol power. Layar menyala perlahan, memberikan warna biru kehijauan yang lembut ke seluruh ruangan gelap. Cahaya itu memantul di wajahnya yang lelah, menghapus bayang-bayang hitam di bawah matanya untuk sesaat.Baginya, laptop ini adalah satu-satunya kemewahan yang ia miliki — jembatan antara dunia kumuhnya dengan mimpi yang ia kejar.“Setidaknya kamu masih setia,” gumam Emma pelan sambil tersenyum tipis ke layar yang mulai menampilk
ปรับปรุงล่าสุด : 2026-05-21 อ่านเพิ่มเติม