Begitu pintu unit apartemen tertutup rapat, Alex langsung menyambar pergelangan tangan Citra dan menyeretnya masuk ke dalam kamar utama.Brak!Pintu kamar ditutup dengan hentakan keras yang menggema di seluruh ruangan.Sebelum Citra sempat mengeluarkan sepatah kata pun, Alex sudah memepetkan tubuh mungil itu ke daun pintu, mengurungnya dengan kedua lengan kekar yang gemetar menahan emosi.Tanpa aba-aba, Alex langsung meraup bibir Citra, menciuminya dengan rakus, kasar, dan tergesa-gesa.Ciuman itu tidak lagi memiliki kelembutan hangat yang biasa membuat Citra melayang. Di dalamnya hanya ada kemarahan, rasa frustrasi yang menyesakkan, dan api cemburu yang membakar habis akal sehat.Kata-kata Miko di ruang sidang tadi terus berputar tanpa henti bagai kaset rusak di kepala Alex.“Aku bahkan masih ingat betul berapa jumlah tahi lalat di tubuh Citra... ada tanda lahir berbentuk samar tepat di bawah selangkangannya. Berapa ukuran pinggangnya, dan bgaimana cara ia menikmati keintiman kami.
Read more