"Anda kenapa, Lady?" Madam Verena langsung mendekat. Tubuh Alara sudah menyandar ke tembok batu. Kepala itu terasa berat. Terasa berdenyut. "Aku tidak apa-apa. Kurasa lelah karena kurang istirahat dari kemarin," elak Alara. 'Kalimat kapan perang akan berakhir, benar terasa terngiang dan familiar. Aku takkan pernah bisa lupa pada sosok menyebalkan itu,' batin Alara. Tangan kanan Alara terus memegangi kepalanya. "Nolin, Choky," teriak Madam Verena. "Apa yang kalian lihat? Cepat bantu, Lady!" Nolin dan Choky saling bertatapan. Keduanya seolah ragu untuk mendekat. Kedua sosok itu masih setia memegangi lentera. Alara menyipitkan sebelah matanya. Dia menahan sakit. Kepalanya terasa berdenyut. "Tidak perlu. Aku bisa jalan sendiri," Alara berusaha melangkah masuk ke dalam kastil. Kaki yang sudah terasa lemas itu dia paksa untuk melangkah menuju kamarnya yang ada di lantai tiga. "Hati-hati, Lady," ujar Madam Verena. Alara terus memaksa tubuhnya yang sudah lemas unt
Baca selengkapnya