"Benar, Lady. Saya yakin ada gerakan tangan meski pelan," Mireya meyakinkan Alara. Alara berdiri tepat di dekat prajurit muda itu. Dia masih menunggu dan mengamati pergerakan dari tubuh Taren yang masih terbaring lemah. Jari tangan Taren kembali bergerak perlahan. Bola mata Alara membulat saat menyadari gerakan itu. "Lady, kau lihat!" teriak Mireya. Jari telunjuknya menunjuk ke arah tangan Taren. "Benar-benar ada pergerakan, Lady." Ekspresi wajah Alara sangat berbeda dengan wajah ekspresi wajah Mireya. Alara masih nampak tegang dan memperhatikan dengan serius. "Jangan berlebihan, Nak," terdengar suara tongkat Tabib Maelor. Dia berdiri tepat di samping Mireya. "Kondisi pasien masih belum stabil. Kau tak boleh bereaksi berlebihan." Mireya menghela napas. "Baik, Ayah. Aku akan lebih belajar mengendalikan diriku." Suasana ruangan hening. Alara, Mireya dan Tabib Maelor dalam pengamatan yang serius. "Tadi malam pemuda ini deman, Lady,"ujar Tabib Maelor. Alara hanya me
続きを読む