"Apa yang ingin kau bicarakan?" Alara memilih mengalah. Dia merasa khawatir melihat kondisi perban di dada kanan Varek tang nampak memerah. Kursi kayu di ruangan kecil itu ditarik oleh Alara. Dia duduk mendekat ke arah Varek. Helaan napas panjamg dilakukan Alara. "Biar kupikirkan terlebih dahulu usulanmu. Para prajuritku sedang menyembuhkan diri. Bisa bertambah kacau jika langsung mengambik keputusan tanpa persiapan apa pun," sahut Varek dengan suara lirih. Dia memegangi luka di dada kanannya. Alara mendengarkan dengan seksama. Apa yang dikatakan Varek ada benarnya. 'Benar, aku terlalu emosional. Peperangan bukan mainan. Perlu perencanaan dan siasat yang matang,' batin Alara. Alara berdiri dan bangkit dari kursi itu. Dia mendekaf ke arah Varek. Varek dibantu agar posisinya menyandar di kepala ranjang kayu itu. "Lukamu masih perlu dirawat dengan baik. Kurasa aku terlalu hanyut dalam emosi. Sudah, lebih baik sembuhkan dulu lukamu ini," Alara memegangi kedua bahu Varek.
続きを読む