"Hati-hati Mireya," Alara mengingatkan. "Kita belum tahu alasan pasti kenapa kereta ini berhenti. Aku takut jika ada musuh ada di depan sana " Alara memperingatkan Mireya. Mireya menggangguk. Jendela kereta itu dibuka sedikit demi sedikit. Nampak pemandangan suasana luar. Tenda-tebda mulai berdiri. Bau bahan yang dibakar tercium hingga ke dalam kereta. Para prajurit tak lagi berada di dalam satu barisan. Semuanya berpencar. "Kurasa kita berhenti di tempat perisitirahatan," celetuk Alara. Kepalanya menyembul keluar dari pintu kereta kayu itu. Netra birunya mengamati pemandangan yang ada di luar sana. "Tak ada bahaya. Aman, kurasa kita tiba di perkemahan," Alara menyimpulkan pengamatannya. "Baik, Lady. Mari rapikan buntalan pakaian kita. Jangan sampai ada barang yang teringgal di dalam kereta ini," Mireya mengingatkan. Dia menyentuh buntalan kain berisi pakaian milik Alara. Selimut yang sudah dikeluarkan dilipat kembali dengan rapi. Selimut itu lalu dimasukan ke dalam bunta
続きを読む