Malam turun perlahan di ibu kota, menyelimuti atap-atap bangunan dengan cahaya remang lentera merah yang bergoyang pelan tertiup angin musim dingin. Suasana di aula utama kediaman Gu tampak tegang. Hawa dingin merayap hingga menusuk tulang. Gu Lanying merapatkan tangannya pada tongkat giok yang kenapa tak sanggup wanita itu hentakkan, meskipun emosi tengah menguasainya. Putranya sendiri, pria yang dulu sangat membenci Gu Qingran, kini justru membelanya di depan matanya sendiri. "Gu Jixuan, kau sudah gila!" teriak Gu Lanying. Gu Jixuan diam, tangannya mengepal di atas lutut. Lu Anxi yang semula memegang cangkir teh perlahan menegang. Senyum lembut di bibirnya nyaris lenyap untuk sesaat, sebelum akhirnya wanita itu kembali menundukkan pandangan dengan anggun. "Aku belum gila saat mengatakan itu, Bu. Aku hanya tidak ingin Nona Lu mengatakan hal sembarangan tentang istriku." "Apa maksudmu?" tanyanya, tatapan matanya berubah tajam seperti elang yang siap menerkam mangsanya.
Magbasa pa