Dion yang menyadari keberadaan kedua orang tuanya dan saudarinya masih berdiri kaku di lorong dengan wajah hancur berdarah, akhirnya menghentikan suapannya sejenak. Bagaimanapun juga, situasi ini terasa teramat canggung."Papi, Mami... Cynthia... kenapa cuma berdiri di sana? Ayo duduk dan makan siang bersama," panggil Dion dengan suara datar, mencoba mencairkan suasana yang teramat tegang.Mendengar ajakan Dion, Martin justru makin tersentak. Pria paruh baya itu menggelengkan kepalanya dengan cepat. Wajahnya yang bengkak, kebiruan, dan bernoda darah mengering tampak begitu mengerikan."Ti-tidak... Tidak perlu, Dion," tolak Martin dengan suara gemetar dan terbata-bata.Jantung Martin berdegup kencang karena ketakutan. Ia tahu betul batas dirinya. Dengan kondisi wajah yang sudah tak berbentuk dan mengerikan seperti ini, jika ia nekat duduk satu meja dengan penguasa sekelas Xavier Dominic, bukankah pria itu justru akan merasa jijik dan terganggu? Dan jika Xavier sampai merasa seleranya h
続きを読む