Jeritan dan raungan histeris Cynthia menggelegar menembus seluruh sudut mansion, membuat langkah-langkah kaki tergesa berhamburan menuju taman belakang.Dion yang baru saja menginjakkan kaki di rumah setelah pulang dari kantor berlari paling depan, disusul Leon, Martin, Lely, hingga beberapa pelayan yang ikut cemas.Melihat kedatangan rombongan itu, akting Cynthia seketika berada di puncak kegilaannya. Ia berguling di atas rumput sembari memegangi perut dan wajahnya yang dipenuhi bekas cakar berdarah. Air matanya bercucuran deras, meraung-raung seolah sedang meregang nyawa."Papi! Mami! Kak Dion! Tolong aku!" raung Cynthia dengan suara melengking memilu. "Liora... Liora mau membunuhku! Dia menampar wajahku berulang kali, mencakar mukaku, dan... dan dia menendang perutku sampai rasanya mau pecah! Perutku sakit sekali, Pi! Tolong..."Lely yang melihat putrinya tergeletak bersimbah darah dan acak-acakan langsung berlutut, memeluk Cynthia dengan napas memburu. "Cynthia! Ya Tuhan, anakku!
Baca selengkapnya