Ujang menarik napas panjang sebelum akhirnya membuka pintu rumahnya sedikit. Ia sengaja mengucek mata dan menguap lebar, berpura-pura baru saja terbangun dari tidur siang yang nyenyak.“Ada apa ini? Kok ramai sekali?” tanyanya dengan wajah bingung.Di depan rumah, belasan warga sudah berkumpul. Beberapa membawa senter, sementara yang lain saling berbisik seolah sedang membicarakan peristiwa besar.Pak Somad, peternak ayam dan sapi yang cukup disegani di desa, melangkah maju.“Begini, Jang. Orang-orang Juragan Baskoro tadi datang ke balai desa. Mereka bilang putri juragan hilang tadi saat berada di desa kita.”Mendengar nama Juragan Baskoro, dada Ujang langsung terasa sesak.Meski berusaha memasang wajah datar, dalam hati ia tidak bisa menyembunyikan kegelisahan. Sampai sekarang ia masih khawatir lelaki kaya itu suatu hari akan menutup mulutnya secara paksa demi menjaga skandal dengan janda kembang.“Kalau memang hilang, kenapa warga desa yang repot?” tanya Ujang berusaha terdengar sant
Read more