Ujang mengusap mata dan berpura-pura.“Oh iya, Juragan… saya sih nggak lihat apa-apa… cuman mata saya ini agak gatal, agak buram… kayaknya butuh obat tetes mata…” katanya, lalu menyodorkan telapak tangan dengan ekspresi lugu.Juragan Baskoro menatapnya tajam. Ia bukan orang bodoh. Ia tahu maksud anak kampung kurus di hadapannya.Dengan gerakan cepat dan jengkel, ia merogoh saku celananya, mengeluarkan selembar uang merah yang masih kaku dan baru, lalu menyelipkannya ke telapak tangan Ujang.“Sana. Buat beli obat tetes mata,” katanya pendek.Seratus ribu.Ujang hampir tak percaya. Uang sebesar itu biasanya butuh beberapa hari berburu kodok.Ia menatap lembaran itu seolah melihat tiket hidup satu hari lebih mudah. Tanpa sadar, ia mengecupnya pelan sebelum menyelipkannya ke saku.“Akhirnya… hari ini nggak kelaparan,” batinnya bergetar.Tapi Ujang baru sadar kalau ia telah memeras Juragan Baskoro… juragan tanah yang juga terkenal kejam di seluruh desa.“Mati aku,” pikirnya.Ia mencari mas
最後更新 : 2026-05-18 閱讀更多