Hari mulai menjelang siang ketika Ujang, Udin, dan Juleha tiba di halaman rumah Parto.Rumah itu termasuk paling megah di desa. Pagar besinya dicat hitam mengilap, halaman depannya luas, dan sebuah garasi berdiri di samping bangunan utama. Di tengah halaman, Parto tampak santai menyiram motornya dengan selang air, seolah tidak terjadi apa-apa.Namun, begitu Ujang melihat lebih dekat, langkahnya langsung melambat.Wajah Parto dipenuhi lebam kebiruan.Bibirnya pecah di sudut kanan.Ada goresan memanjang di pelipis yang baru saja mengering.Tapi yang lebih menyedihkan lagi, motor barunya juga tidak kalah mengenaskan. Lampu depannya retak, spakbor penyok, dan bodi sampingnya lecet panjang seperti baru saja diseret di atas aspal atau digilas kendaraan berat.“To… kau nggak apa-apa?” tanya Ujang dengan nada prihatin.Parto menoleh, lalu memaksakan senyum tipis.“Tenang saja, Jang. Aku cuma jatuh dari motor.”Ucapan Parto langsung membuat Udin mendengus.“Jatuh dari motor?”“Iya.”“Motor kamu
Read more