Ujang sudah bersiap kabur.Matanya diam-diam melirik ke arah samping rumah Juminten. Dari posisi berdirinya, ia masih bisa mencapai pintu belakang jika bergerak cepat. Kebun singkong yang gelap juga sudah sangat dikenalnya malam ini.Kalau keadaan memburuk, ia tinggal lari.Masalahnya, sebelum sempat mengambil langkah pertama, belasan pengawal Juragan Baskoro yang berdiri di halaman tiba-tiba bergerak serempak.Mereka menegakkan badan dengan dada dibusungkan lalu berseru bersama-sama.“Kami siap menerima perintah, Bang Ujang!”Suara mereka menggema di halaman yang sunyi.“HAH?!”Mata Ujang langsung membelalak dan mulutnya terbuka lebar.Kalau ada lalat lewat saat itu, mungkin sudah masuk tanpa izin.Juminten juga terpaku.Udin bahkan terlihat lebih bingung lagi.Beberapa detik lalu mereka bertiga sudah membayangkan berbagai kemungkinan buruk.Dikeroyok, diculik, atau minimal dipukuli.Ternyata... belasan orang ini malah datang memberi hormat.“Aku nggak salah dengar, kan?” gumam Udin.
Last Updated : 2026-06-09 Read more