Tubuh Ujang menegang. Ia kenal suara merdu itu. Perlahan ia berbalik. Juleha berdiri di sana, diterangi cahaya lampu halaman yang mulai menyala. Rambutnya tergerai rapi di bahu, wajahnya bersih dengan senyum tipis yang membuat dada Ujang makin tak karuan. “Leha… kamu datang juga?” tanyanya gugup. Sudah lama ia menyimpan rasa pada gadis itu. Tapi setiap kali ingin mendekat, nyalinya selalu menguap. “Kamu jadi pembicaraan satu desa sekarang,” kata Juleha pelan. “Udah, Jang! Ajak jalan!” teriak Udin tanpa ampun. “Udah punya motor, udah kaya, masih malu-malu!” “Apaan sih kamu, Din!” Juleha memukul lengan Udin ringan. Wajahnya merah, entah karena malu atau tersorot lampu. “Gak rugi kamu jadi pacarnya! Ujang sekarang punya uang tujuh juta, loh!” lanjut Udin, tertawa keras. Kerumunan ikut bersorak kecil. Ujang hanya bisa menggaruk tengkuknya. Wajahnya panas. Di sisi lain, Parto mendengus pelan. “Enak banget kalian. Pasang togel gak ngajak-ngajak,” katanya dengan nada pura-pura ke
Last Updated : 2026-06-02 Read more