Setelah memastikan keadaan di rumah Juminten benar-benar aman dan tidak ada tanda-tanda penyusup kembali, Ujang akhirnya memutuskan pulang. Langkahnya terasa lebih ringan, meski rasa penasaran tentang sosok yang telah mengacak-acak rumah itu masih menggantung di benaknya.Juminten mengantarnya sampai ke teras.Tatapan wanita itu seolah ingin mengatakan sesuatu."Jang...""Iya, Kak?""Kalau... kalau kamu mau, sebenarnya Kakak nggak keberatan ditemani sampai pagi."Nada suaranya terdengar pelan, hampir kalah oleh semilir angin yang menggoyangkan dedaunan mangga di halaman.Ujang tersenyum kecil.Ia mengerti maksud Juminten. Setelah kejadian aneh malam itu, wajar jika wanita yang tinggal seorang diri merasa takut.Namun, bayangan wajah Pak RT yang pernah tiba-tiba melakukan sidak muncul di kepalanya.Kalau malam ini hal yang sama terulang, habislah nama baik mereka berdua."Besok pagi rumah Ujang juga bakal ramai, Kak."Ujang mengusap tengkuknya."Kalau ada warga lihat Ujang keluar dari r
Mehr lesen