Begitu pintu kamar hotel terbuka, Udin berdiri beberapa detik di ambang pintu. Matanya menelusuri setiap sudut ruangan dengan takjub. Lampu-lampu berwarna keemasan memancarkan cahaya hangat, sementara aroma lembut pengharum ruangan berpadu dengan wangi kayu dari furnitur premium. Di hadapannya terbentang kamar yang jauh lebih mewah daripada rumah terbesar yang pernah ia lihat di kampung."Silakan masuk, Bang Udin," ujar Sheila ramah.Udin mengangguk kaku sebelum melangkah perlahan. Sepatu empuknya tenggelam di atas karpet tebal. Ia masih merasa semua yang dialaminya malam itu seperti mimpi.Sheila menutup pintu dengan tenang, lalu mulai menjalankan tugasnya sebagai pendamping tamu."Kalau Abang ingin bersantai, fasilitas di kamar ini lengkap," katanya sambil mengambil remote televisi.Layar besar yang menempel di dinding langsung menyala, menampilkan deretan film dari berbagai genre."Ada banyak film yang bisa Bang Udin tonton. Mau aksi, komedi, atau petualangan juga ada.""Oh... banya
Read more