Juragan Broto masih berdiri di tempatnya.Tatapannya tajam menembus wajah Ujang, seolah sedang mencoba memastikan bahwa pemuda desa itu benar-benar waras.Selama puluhan tahun menjadi juragan tanah, belum pernah ada orang yang berani menolak tawarannya berkali-kali.Biasanya, begitu angka yang disebutnya cukup besar, pemilik tanah akan luluh dengan sendirinya.Namun, Ujang berbeda. Pemuda itu tetap berdiri tenang, tanpa sedikit pun menunjukkan keraguan.Wajah Juragan Broto mulai memerah. Ia menarik napas panjang, lalu mengangkat tiga jari di depan Ujang."Baiklah." Nada suaranya kini lebih berat. "Tiga miliar."Kerumunan warga kembali dibuat gaduh."Tiga miliar?""Itu benar-benar gila.""Kalau aku sih langsung jual."Bisik-bisik terdengar di mana-mana.Juragan Broto tersenyum tipis, yakin kali ini Ujang pasti akan berubah pikiran. "Itu tawaran terakhir."Tatapannya berubah dingin. "Kalau sampai kamu menolak..." Ia memberi jeda beberapa detik. "...kau akan menyesal." Ancaman itu meluncu
Read more