“Hore! Aku jadi miliarder!” Ujang melonjak-lonjak di halaman rumah kakeknya, kedua tangan terangkat tinggi, debu tanah kering beterbangan dari sandal jepitnya yang menghentak-hentak.Kailen berdiri di dekat pagar bambu, menahan tawa yang akhirnya pecah juga. Bahu gadis itu berguncang, tangannya menutup mulut, matanya menyipit menahan geli melihat kelakuan dua sahabat itu di depannya.“Aku jadi jutawan!” Udin ikut berteriak, tak mau kalah, melompat-lompat di sebelah Ujang sampai ayam-ayam tetangga yang sedang cari makan berhamburan kabur.Ujang langsung berhenti, menoleh cepat. “Kan duitnya belum aku kasih?” protesnya, alis terangkat, tangan bersedekap di dada.“Duit kamu juga belum… masih di akun aku!” balas Udin sambil menyeringai lebar, memamerkan gigi yang agak berantakan.Keduanya saling pandang sedetik, lalu meledaklah tawa mereka bersamaan, keras dan lepas, sampai Kailen ikut terpingkal-pingkal, perutnya terasa geli melihat dua orang dewasa bertingkah seperti anak kecil yang baru
Read more