Elena dengan cepat menutup kembali kantong kain itu dan menyembunyikannya di balik jubah, wajahnya merona merah karena tertangkap basah menerima barang kekanak-kanakan di depan Arlon."Bukan urusanmu, Arlon, seperti nya Ayah salah kirim," jawab Elena, berkilah."Halah, jangan bohong," goda Arlon, senyum miringnya yang jahil seketika kembali terpasang di wajahnya yang mulai membaik."Pipi pembunuh bayaran kok mendadak merah begitu cuma karena dikasih permen susu? Berarti kamu suka ya? Minta satu dong, El," ucap Arlon, mengadakan kedua tangannya, dengan senyum menyebalkan menurut Elena."Tidak boleh! Ini milikku," jawab Elena ketus, melangkah mundur menjauh dari Arlon sambil mendekap kantong permennya dengan protektif."Hahahaha..."Arlon tidak bisa menahan tawa renyahnya melihat sisi lain dari istrinya yang biasanya selalu memasang wajah datar, kaku dan galak, ternyata pecinta permen susu."Jujur saja, El, aku penasaran. Bagaimana bisa seorang ketua klan bayangan yang terkenal kejam, b
Terakhir Diperbarui : 2026-05-22 Baca selengkapnya