76 Lampu-lampu kelab malam itu berpijar temaram, mengiringi dentuman musik yang terdengar samar namun terasa intens. Aroma alkohol yang pekat berbaur dengan wangi parfum mahal, memenuhi setiap sudut ruangan. Di salah satu sudut yang agak tersembunyi, Calvin duduk seorang diri dengan beberapa botol anggur yang sudah menderet di hadapannya. Tangannya mencengkeram gelas kaca itu dengan sangat erat. “Tuan… sudah, cukup,” suara Ronal terdengar memperingatkan dengan pelan di sampingnya. Calvin sama sekali tidak menoleh. Dia hanya mengangkat gelasnya tinggi-tinggi, lalu menenggak isinya lagi tanpa ragu sedikit pun. Cairan pahit itu mengalir lancar membasahi tenggorokannya, namun sama sekali tidak mampu meredakan rasa sesak yang menghimpit dadanya. “Tuangkan lagi,” titahnya datar. Ronal mengembuskan napas panjang, tampak serbasalah. “Lambung Anda belum pulih benar, Tuan. Dokter bilang—” “Aku tidak butuh ceramah,” potong Calvin dingin. Dia meraih sendiri botol itu, lalu menuangkan kemb
Read more