Teilen

Bab 165. Rencana

last update Veröffentlichungsdatum: 02.07.2026 19:08:46
“Ini obatnya, Elowen.”

Lagi-lagi Silas yang datang. Sudah tiga hari semenjak kejadian itu, Aisar benar-benar hilang dari hidupnya.

Pria itu hanya mengirim Silas dan Lady Seraphine untuk mengobati dan memastikan kondisinya.

Elowen meremas gaunnya. Rasa bersalah dan rasa rindunya semakin membuatnya gelisah.

“Apa aku keterlaluan?” tanya Elowen lirih. Dia menatap pantulan dirinya yang kini tampak semakin kurus dan pucat.

“Tapi… tapi aku melihat Tuan Aisar berciuman dengan Putri Aureli
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel

Aktuellstes Kapitel

  • Pelayan Kesayangan Sang Pangeran   Bab 189. Minta Maaflah Pada Ibuku

    “Bukan maaf, Kak… kita harus mencari jalan keluar,” kata Aurelia lirih. Dua saudara kembar itu kini sudah menyatukan kedua kening mereka sambil terus menangis. Bohong kalau Dominique tidak merasa iba. Walau bagaimanapun, dia pernah menganggap mereka berdua putra-putrinya yang sah. “Kau lihat itu, Elisabeth?” tanya Dominique pelan. “Ini adalah hasil dari kejahatan yang selama ini kau lakukan. Bukan hanya kau yang menderita, tapi putra-putri yang selama ini kau lindungi juga ikut merasakan kepedihannya.” “Baginda—!” Seorang tabib datang memecah keheningan. Dominique langsung menoleh dengan wajah tegang. “Apa yang terjadi dengan Aisar?” Tabib itu menunduk hormat. “Tuan Muda Aisar sudah sadarkan diri, Baginda,” ujarnya. Seperti udara dingin di musim panas. Tubuh Dominique yang semula tegang, kini mulai terasa lebih ringan. Raut wajah yang semula tegas, perlahan mulai melembut. “Syukurlah dia selamat,” gumamnya nyaris tanpa suara. Namun beberapa detik kemudian, wajah itu kemba

  • Pelayan Kesayangan Sang Pangeran   Bab 188. Saudara Kembar

    “Tentu saja,” katanya dingin. “Kau sejak awal sudah hidup bahagia dengan gelar dan kemewahan. Aku tahu kau tidak pernah mau kalah, terlebih itu oleh Aisar—anak selir yang selalu kau hina.” Bandit itu berdiri. Dia yang hendak berjalan mendekati Adrien, langsung dipaksa duduk kembali oleh ksatria di belakangnya. “Kau lupa bagaimana kau memintaku untuk menghalangi pasukan kerajaan saat pencarian penawar racun di bukit Eze?” tanya bandit itu. Wajahnya kini berubah menjadi lebih kesal dan penuh amarah. “Kau memerintahku layaknya seorang budak, dan saat kau tertekan seperti ini, kau datang dan menganggapku ayah.” Bandit itu menggeleng kasar. Tawanya kali ini berhasil membuat matanya menyipit. “Memuakkan!” serunya. Ruang sidang kembali dipenuhi keheningan. Adrien kini masih berlutut dengan kedua mata yang membelalak. Dadanya naik turun tidak beraturan. Kalimat yang baru saja keluar dari mulut bandit itu terus terngiang di dalam kepalanya. “Jadi kau hanya ingin menyelamatkan dirimu se

  • Pelayan Kesayangan Sang Pangeran   Bab 187. Sidang

    “Pangeran Adrien, Baginda ingin mulai mengadili semua dosa yang telah kalian lakukan.”Kalimat itu membuat Adrien perlahan mengangkat wajahnya. Rambut hitamnya sudah berantakan, sementara kedua pergelangan tangannya masih dibelenggu rantai besi.Dia tersenyum sinis. Dia tidak menyangka akan berada di titik ini. Titik yang dulu pernah Aisar tempati, kini berbalik pada dirinya sendiri. “Ayahku—ah… maksudku bandit itu?” tanyanya pelan. “Apa dia juga akan diadili?”Kesatria itu tidak menjawab. Dia hanya membuka pintu sel, lalu memberi isyarat kepada dua prajurit lain untuk membawa Adrien keluar.“Jalan.”Adrien mendengus pelan. Dia ingin sekali menghajar mereka yang sudah membuatnya merasa terhina. “Aku akan berjalan sendiri. Jangan sentuh aku, atau kalian akan kehilangan tangan dan kaki.”Meski kedua tangan dan kakinya dirantai, dia tetap berusaha mempertahankan harga dirinya sebagai seorang pangeran.Tak jauh dari sana, di sel yang lain, bandit tua itu juga sudah dikeluarkan. Tatapan m

  • Pelayan Kesayangan Sang Pangeran   Bab 186. Cahaya Harapan

    “Baginda…” Suara tabib itu membuat seluruh lorong kembali hening. Semua mata langsung tertuju padanya. Bahkan Elowen yang sejak tadi menunduk perlahan mengangkat wajahnya. Bibir gadis itu bergetar, seolah takut mendengar kalimat berikutnya. “Bagaimana keadaan putraku? Apa dia baik-baik saja? Apa kalian berhasil?” tanya Dominique tanpa mampu menyembunyikan kegelisahannya. Wajah tuanya semakin terlihat lelah dan putus asa. Tabib itu menarik napas panjang sebelum akhirnya membungkukkan tubuh lebih dalam. “Pendarahannya sudah berhasil kami hentikan, Baginda. Kami sudah berusaha dengan sangat keras.” Kalimat itu membuat Elowen langsung menutup mulutnya. Air mata yang semula tidak berhenti mengalir kini berubah menjadi isak syukur. “Ta-tapi, Baginda… kondisi Pangeran Aisar masih belum stabil. Beliau kehilangan terlalu banyak darah. Kami sudah melakukan semua yang kami bisa. Sekarang semuanya bergantung pada beliau sendiri.” lanjut tabib itu pelan. Senyum yang baru saja muncul

  • Pelayan Kesayangan Sang Pangeran   Bab 185. Di Ambang Kehilangan

    Pintu ruang perawatan kerajaan tertutup rapat. Elowen berdiri tepat di depannya. Jemarinya masih dipenuhi darah Aisar yang mulai mengering. Gadis itu sama sekali tidak bergerak. Tatapannya terus menempel pada pintu kayu besar itu, seolah berharap Aisar akan keluar sambil tersenyum seperti biasanya. Di balik pintu, suara para tabib terdengar saling bersahutan. Kepanikan menekan bagai udara dingin yang menyerap sisa oksigen. “Siapkan air panas!” “Pendarahannya belum berhenti!” “Cepat ganti kainnya!” Setiap suara yang terdengar membuat jantung Elowen semakin terasa sesak. Gadis itu kini sudah bersimpuh di atas lantai marmer. Wajahnya pucat dengan bibir kering yang tampak mengenaskan. ‘Aku akan selalu ada untukmu, Elowen. Aku akan selalu melindungimu. Dan aku berjanji akan mengembalikan harga diri keluargamu.’ Kalimat itu kembali terngiang bagai duri kecil yang berusaha mengoyak lapisan terdalam jantungnya. “Elowen.” Lady Seraphine datang bersama Elis. Wanita itu perlahan meny

  • Pelayan Kesayangan Sang Pangeran   Bab 184. Kembali Membawa Kemenangan

    “Tuan Aisar!”Elowen yang sejak tadi berdiri di balik kerumunan langsung berlari. Dia bahkan tidak sempat memakai alas kaki. Gaun putihnya sedikit terangkat saat kakinya terus berlari menembus barisan para ksatria.“Tuan…” Elowen menyentuh pipi Aisar yang sudah pucat dengan suhu tubuh yang cukup tinggi. “Anda berjanji akan melindunginya, Tuan Silas. Lalu kenapa dia datang dengan luka seperti ini…” Suara lirih Elowen membuat suasana mendadak bungkam. “Menyingkir!” seru Dominique kepada semua orang yang menghalangi jalan. “Cepat beri jalan. Bawa dia ke tabib, sekarang!”Seluruh halaman istana mendadak dipenuhi kepanikan. Silas segera turun dari kudanya. Sebelum kakinya benar-benar menginjak tanah, Elowen buru-buru berdiri di samping Aisar.“Tuan… bukan matamu, Tuan… Anda sudah kembali. Lihat saya, Tuan… saya mohon…” gumamnya lirih. Tangannya gemetar saat menyentuh bagian luka Aisar yang terasa sangat hangat. Darah masih membasahi pakaian pria itu. Bahkan kain yang membalut luka di pe

  • Pelayan Kesayangan Sang Pangeran   Bab 10. Senyum Tuan Muda Aisar

    Elowen menelan ludahnya. Senyum hangat Aisar membuat dadanya kembali mengembang. Lagi-lagi dia merasa kalau Aisar memberi harapan untuknya. Gadis itu buru-buru menunduk sebelum dia kehilangan akal karena sudah mulai tertarik pada pria yang jelas tidak bisa digapai. “Baik, Tuan. Saya akan selalu m

  • Pelayan Kesayangan Sang Pangeran   Bab 8. Di balik senyum Aisar

    Itu Aisar! Elowen menjauh. Dia langsung membungkuk. “Maafkan saya Tuan. Saya teledor.” Namun Aisar segera bertolak. Dia mengangkat tangannya, memberi isyarat pada Elowen untuk ikut dengannya. Sekilas, wanita itu melirik Silas yang berdiri tepat di belakangnya. Aura Silas lebih gelap dari pada A

  • Pelayan Kesayangan Sang Pangeran   Bab 6. Sebuah Lukisan

    Elowen yang sudah bersimpuh dengan tangan meremas gaunnya, berusaha mengangkat wajah. Bukan menatap lukisan itu, tapi matanya justru terpaku pada pria dia depannya. ‘Jadi dia adalah keluarga kerajaan Veloisea? Pria yang sudah membebaskanku dari ancaman malam itu adalah seorang anggota kerajaan?’“

  • Pelayan Kesayangan Sang Pangeran   Bab 5. Aisar Leonel

    “Kalau memang kau diberi tugas untuk mengantar sesuatu ke tempat itu … pastikan kau tidak menatap monster itu. Kalau tidak, kau akan habis diterkamnya.”Degup jantung Elowen sudah di atas manusia normal lainnya. Kini, dia bahkan enggan untuk melirik paviliun itu. Elowen meremas jarinya yang bergeta

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status